Kasus penculikan dan pembunuhan kepala cabang bank, M Ilham Pradipta, memasuki babak persidangan. Tiga orang yang diduga sebagai dalang sudah menghadap hakim untuk pertama kalinya.
Sidang perdana mereka digelar Senin lalu, tanggal 9 Maret. Menurut informasi dari sistem SIPP Pengadilan Negeri Jakarta Timur, sidang lanjutan yang akan membacakan perlawanan dari pengacara para terdakwa dijadwalkan pada Senin depan, 16 Maret. Nama-nama yang duduk di kursi terdakwa adalah Candy alias Ken, Dwi Hartono, dan Antonius Aditia.
Dari dakwaan jaksa, ceritanya ternyata berawal lama. Sejak 2013, Ken disebut-sebut sudah mulai mengumpulkan data para pimpinan cabang bank BUMN. Targetnya satu: mencari yang mau diajak kerja sama untuk ‘memindahkan’ uang dari rekening dormant atau rekening pasif. Intinya, dia butuh seorang kepala cabang untuk membuka akses.
“Kemudian Terdakwa I Candy alias Ken menghubungi Terdakwa II Dwi Hartono untuk merencanakan pemindahan uang dari rekening dormant yang ada ke rekening penampungan yang sudah disiapkan,”
begitu bunyi kutipan dakwaan jaksa yang tercatat dalam sistem tersebut.
Nah, sekitar Juni tahun lalu, Ken dapat kabar ‘mentereng’. Ada rekening dormant di sebuah cabang bank BUMN di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, yang isinya fantastis: Rp 455 miliar. Dana sebesar itu, kata rencana mereka, bisa digeser ke rekening penampung.
Dwi Hartono lalu merekrut Antonius Aditia Maharjuni. Ketiganya akhirnya bertemu di sebuah rumah makan pada Juli 2025. Di situlah rencana dirinci. Mereka bahas data rekening target, sekaligus strategi untuk mendekati sang kepala cabang, Ilham Pradipta.
Namun begitu, jaksa mengungkapkan bahwa upaya Ken mengajak kerja sama kepala cabang bank sebelumnya selalu gagal. Tak satu pun mau terlibat.
“Terdakwa I Candy alias Ken telah beberapa kali mencoba mengajak para Kepala cabang bank untuk bekerja sama, akan tetapi para kepala cabang bank tersebut tidak ada yang mau diajak kerja sama,”
jelas jaksa dalam dakwaannya. Itu yang membuat rencana kali ini dirancang dengan sangat hati-hati dan akhirnya berujung pada tragedi yang mengerikan.
Artikel Terkait
Operasional Haji 1447 H Hari Ketujuh: 34.657 Jamaah Diberangkatkan, Kendala Teknis Dua Pesawat Ditangani
Presiden Prabowo Prihatin Atas Tabrakan KA Argo Bromo dan KRL di Bekasi, 7 Tewas
Presiden Prabowo Jenguk Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi, 7 Tewas dan 81 Luka-luka
Korban Tewas Kecelakaan KA Argo Bromo di Bekasi Bertambah Jadi 7 Orang, 81 Luka-Luka