Namun begitu, ada sedikit tekanan yang diantisipasi. Bank memperkirakan Net Interest Margin atau NIM akan sedikit merosot ke level 5,4-5,6 persen, turun dari 5,7 persen di 2025. Penyebabnya tak lain adalah aksi agresif BI yang memangkas suku bunga acuan tahun lalu.
"Kita perkirakan dengan penurunan bunga BI dari tahun lalu, dampaknya akan terasa di tahun ini. Sehingga guidance kita untuk NIM di tahun ini di kisaran 5,4 sampai 5,6 persen. Jadi menurun NIM-nya, memang kita ekspektasi dampaknya akan lebih terasa tahun ini," ungkap Vera.
Di sisi lain, soal kualitas kredit, BCA tampaknya tak terlalu khawatir. Mereka menargetkan rasio kredit macet atau NPL tahun ini stabil, tak jauh dari kisaran 1,8-2 persen seperti tahun sebelumnya.
Optimisme ini punya dasar. Sepanjang 2025, kinerja BCA memang cukup moncer. Laba bersihnya membukukan kenaikan 4,9 persen menjadi Rp 57,5 triliun. Penyaluran kreditnya tumbuh 7,7 persen menjadi hampir Rp 1.000 triliun, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan yang bahkan mencapai 10,8 persen.
Kredit itu tersebar di berbagai sektor vital: mulai dari manufaktur, perdagangan, hingga perhotelan dan rumah tangga. Yang menggembirakan, kualitasnya tetap terjaga. Rasio loan at risk membaik jadi 4,8 persen, sementara NPL bertengger di level aman 1,7 persen. Pencadangan untuk risiko kredit pun dinilai lebih dari cukup.
Jadi, meski margin diprediksi tertekan, BCA yakin momentum pertumbuhan masih bisa ditangkap. Semuanya tergantung pada bagaimana program pemerintah dan investasi asing benar-benar bisa mendorong permintaan kredit di lapangan.
Artikel Terkait
Menkeu Purbaya Tantang Investor: Tertawakan Saya, Tapi Jangan Lupa Investasi
Cincin Donat untuk Pejalan Kaki: MRT Jakarta Rancang Jembatan Melingkar di Dukuh Atas
Pertamina Usul Batasi Pembelian LPG 3 Kg Maksimal 10 Tabung per KK Mulai 2026
LPS Soroti Suku Bunga Simpanan yang Belum Turun Sesuai Sinyal Pasar