Lalu, apa sih nilai jual utama mereka? Achmad bilang, semuanya terletak pada ekosistem yang mereka bangun. Sebuah ekosistem yang defensif sekaligus lincah. Di sisi produksi, misalnya, mereka punya manufaktur sendiri. Ini menjamin kecepatan produk sampai ke pasar dan tentu saja, margin yang lebih baik.
Di sisi lain, jaringan distribusi offline mereka sudah menjangkau lebih dari 10.000 titik penjualan di seluruh Indonesia. Belum lagi langkah mereka di awal 2026: meluncurkan website e-commerce direct-to-consumer untuk tiap brand. Fiturnya pakai basis AI, katanya bisa memberikan stabilitas pendapatan tanpa bergantung sepenuhnya pada algoritma marketplace yang fluktuatif.
Semua operasional harian brand-brand itu dikelola secara terpusat. Dan mereka mengandalkan sekitar 150 talenta ritel terbaik yang bekerja di kantor pusat.
Startup yang digawangi Achmad Alkatiri ini berdiri di Jakarta pada 2019. Sepanjang perjalanannya, Hypefast berhasil mengumpulkan pendanaan dalam dua putaran. Totalnya mencapai USD 22 juta. Beberapa nama besar seperti Monk's Hill Ventures dan Jungle Ventures tercatat termasuk dalam daftar investor yang mempercayakan modalnya.
Jadi, tinggal menunggu waktu. Jika semua berjalan sesuai roadmap, pertengahan 2027 nanti kita akan menyaksikan Hypefast melantai di BEI.
Artikel Terkait
CBDK Catat Laba Bersih Rp1,36 Triliun, Melonjak 48% di 2025
BCA Bagikan Dividen Final Rp34,5 Triliun, Total 2025 Capai Rp41,4 Triliun
Wall Street Rebound Dihantui Data Campuran dan Ekspektasi Suku Bunga Tinggi
Persiapan Mudik Lebaran 2026: Ban Tepat Jadi Kunci Hemat Daya Mobil Listrik