Thomas Djiwandono Usung Strategi Gerak BI untuk Pacu Pertumbuhan Inklusif

- Senin, 26 Januari 2026 | 17:24 WIB
Thomas Djiwandono Usung Strategi Gerak BI untuk Pacu Pertumbuhan Inklusif

"Artinya sinergi dengan stakeholder lain, sinergi dengan fiskal, sinergi dengan OJK dan lembaga keuangan lainnya itu tidak mengurangi independensi bank Indonesia," tegasnya.

Lalu, bagaimana dengan cita-cita Indonesia Maju 2045? Thomas punya pandangan. Pertumbuhan tinggi saja tidak cukup. Itu harus dibarengi dengan pemerataan dan stabilitas jangka panjang. "Pertumbuhan yang tinggi harus inklusif dan harus berkelanjutan," ujarnya.

Kuncinya ada pada sinergi. Sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan. Ia lalu menjelaskan sebuah konsep yang ia usung: sinergi fiskal-moneter di level likuiditas dan suku bunga. Ini berbeda dengan burden sharing di masa pandemi. Konteksnya sekarang adalah mendorong pertumbuhan, bukan menanggung beban krisis.

"Saat ini hal yang saya ingin cetuskan adalah sinergi fiskal moneter khususnya di level likuiditas dan suku bunga," paparnya.

Ia mengakui, transmisi kebijakan suku bunga butuh waktu. Makanya, dukungan likuiditas yang memadai sangat krusial. Data menunjukkan, saat likuiditas perbankan naik, kredit terutama kredit investasi ikut merangkak naik.

Agenda jangka panjang lainnya adalah memperdalam dan memperkuat sektor keuangan. Thomas bahkan mengusulkan sebuah ide yang terdengar segar: konsep ketahanan sektor keuangan, atau "financial security".

"Kita ada istilah ketahanan pangan, ada istilah ketahanan energi, tetapi langkah baiknya kalau kita secara bersama memikirkan ketahanan sektor keuangan," katanya.

Di akhir, semua kembali pada kata 'keberlanjutan'. Itulah sasaran utamanya. Melalui implementasi UU P2SK, transformasi digital, dan peningkatan inklusi keuangan khususnya untuk UMKM. "Inklusi dalam hal ini menurut saya ke depannya adalah bagaimana peran UMKM dapat terus ditingkatkan," tutup Thomas.


Halaman:

Komentar