Sepi yang Menyisakan: Kisah Pedagang Valas Jalanan di Kwitang yang Bertahan di Tengah Lesu

- Senin, 26 Januari 2026 | 13:30 WIB
Sepi yang Menyisakan: Kisah Pedagang Valas Jalanan di Kwitang yang Bertahan di Tengah Lesu

Bisnis ini penuh risiko, termasuk terpapar uang palsu. Nana mengaku sering menemui orang yang menukarkan dolar palsu, baik yang sengaja maupun yang tidak tahu. Pengalaman bertahun-tahun membuatnya paham cara membedakannya.

"Banyak sekali. Kita sendiri was-was, tapi ngerti lah caranya. Kita kan punya HP untuk cek," cerita Nana.

Di tengah sepinya transaksi valas, Nana harus mencari cara bertahan. Kini, ia membuka warung kopi dan rokok sebagai sampingan. Hidup harus terus berjalan.

Di lokasi yang tidak jauh, ada Rohadi (55) yang juga merasakan hal serupa. Pria yang berjualan di Kwitang sejak 1998 ini mengeluhkan hal yang sama: sepi.

"Wah jarang. Paling ke money changer resmi mereka," keluh Rohadi. "Dulu ramai sekali di sini, setiap 10 meter ada pedagang. Sekarang tinggal bertiga."

Sama seperti Nana, Rohadi kini hanya melayani penjualan valas dari masyarakat. Ia tak punya stok untuk dijual kembali.

"Cuma beli aja. Kalau ada yang mau beli dari saya, mah enggak ada barangnya," katanya. "Untuk dolar sobek, harganya tergantung. Kalau sobeknya 50 persen, paling dapat Rp 8.000-an per dolar."

Dari semua jenis valas, dolar AS masih yang paling banyak ditukar orang. Dan seperti Nana, Rohadi juga kerap jadi sasaran penukaran uang palsu.

"Sering. Pemeriksaannya cuma manual doang. Sudah ngerti sih bedainnya, tapi ya kebobolan juga kadang," akunya.

Transaksi terbesar yang pernah ditanganinya mencapai 5.500 dolar AS. Tapi tak sedikit juga yang hanya menukar 10 dolar. Untuk menyambung hidup, Rohadi punya cara yang mirip dengan Nana.

Kini, ia juga berjualan kopi seduh. "Kalau ngandelin dolar doang, mah parah," tutup Rohadi dengan senyum getir.


Halaman:

Komentar