Indonesia dan Inggris baru saja merampungkan kesepakatan bernama Economic Growth Partnership atau EGP. Nah, para pelaku usaha punya harapan besar. Mereka ingin kesepakatan ini tak cuma jadi wacana, tapi benar-benar diwujudkan dalam bentuk fasilitas nyata hingga proyek kolaborasi konkret.
Intinya, EGP ini adalah kerangka kerja sama yang praktis dan benar-benar dibuat untuk memudahkan para pengusaha. Menurut Shinta Kamdani, Ketua Umum Apindo, jika ditindaklanjuti dengan serius, kerja sama ini berpotensi besar menciptakan lapangan kerja baru.
“Dunia usaha berharap ada tindak lanjut nyata dari Growth Partnership ini,” ujar Shinta.
“Bentuknya bisa fasilitas pasar, konektivitas investasi, atau proyek kolaborasi lain. Semua itu pada akhirnya bisa mendongkrak ekspor, menarik lebih banyak investasi, dan membuka lapangan kerja. Ini penting untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” jelasnya pada Minggu (25/1).
Lalu, apa saja fokus kerja samanya? Bidangnya cukup beragam. Energi bersih dan transisi berkelanjutan jadi salah satu prioritas, begitu pula dengan ekonomi digital. Tak ketinggalan, infrastruktur dan transportasi juga masuk dalam daftar, yang diharapkan bisa meningkatkan konektivitas dan kapasitas ekonomi kedua negara.
Di sisi lain, kerja sama juga menjangkau sektor-sektor seperti pertanian, makanan-minuman, serta perdagangan dan investasi. Bahkan, cakupannya meluas hingga pendidikan, layanan kesehatan, ilmu hayat, dan jasa keuangan.
Shinta sendiri menyambut baik kesepakatan ini. Baginya, EGP mencerminkan komitmen bersama untuk membuka peluang pasar dan mempermudah arus investasi dua arah. Hambatan perdagangan juga diharapkan bisa dikikis melalui pertukaran informasi dan praktik terbaik antara pemerintah dan swasta.
“Kesepakatan ini juga menggarisbawahi poin-poin krusial seperti ketahanan rantai pasok, persaingan sehat, dan tentu saja pembangunan berkelanjutan. Semua itu jadi fondasi untuk pertumbuhan ekonomi ke depan,” tambahnya.
Secara angka, hubungan dagang kedua negara sebenarnya sudah menunjukkan tren positif. Shinta memaparkan, total perdagangan bilateral tahun 2024 lalu menyentuh angka sekitar USD 2,7 miliar. Dari jumlah itu, ekspor Indonesia ke Inggris berkontribusi sekitar USD 1,8 miliar.
“Memang, angka ini masih terbilang kecil jika dibanding total ekspor kita ke seluruh dunia yang tembus USD 266 miliar lebih,” akunya.
“Tapi justru di situlah peluangnya. Masih ada ruang yang sangat besar untuk meningkatkan volume dan nilai tambah produk kita, bukan cuma ke pasar Inggris, tapi juga ke Eropa yang lebih luas.”
Pintu Masuk ke Pasar Global?
Harapan serupa datang dari Pahala Mansury, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia. Ia berharap EGP bisa menjadi pembuka jalan bagi produk Indonesia untuk menjangkau pasar global yang lebih luas.
“Kita berharap kerja sama ini diikuti dengan pembukaan akses pasar yang lebih lebar untuk produk dalam negeri,” kata Pahala.
“Contohnya untuk industri padat modal seperti garment textile, elektronik, atau komponen otomotif.”
Ia punya optimisme tersendiri. Menurutnya, pembukaan pasar itu bisa berjalan mulus berkat EGP, apalagi dengan posisi Inggris yang kini sedang gencar mencari mitra dagang strategis di luar kawasan Atlantik.
“Kami optimistis. Partnership yang sudah ditandatangani ini akan memuluskan hal tersebut. Situasi di Eropa pasca-Brexit beberapa tahun lalu juga mendorong Inggris untuk mencari mitra baru, dan ini peluang bagus untuk Indonesia,” pungkasnya.
Artikel Terkait
IHSG Merosot Tujuh Hari Beruntun, Tertekan Pelemahan Rupiah dan Aksi Jual Asing
Harga Aluminium Anjlok Akibat Harapan Baru Negosiasi Damai AS-Iran
MNC Digital Entertainment Ajukan Pencatatan Saham Sekunder di Bursa Hong Kong
KAI Tutup Sementara Commuter Line Stasiun Bekasi Timur Usai Tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek, 6 Tewas