Pendapat serupa datang dari ekonom Celios, Nailul Huda. Ia bilang, gejolak di Timur Tengah hampir pasti bawa lonjakan harga minyak global. Sejarah sudah membuktikan.
Asumsi itulah yang dipakai untuk hitung subsidi. Jadi, kalau harga global melonjak di atas proyeksi, anggaran subsidi terutama untuk minyak bisa jebol. Harga gas biasanya ikut-ikutan naik. Beban fiskal makin berat.
Masalahnya, di tengah tekanan ini pemerintah masih punya komitmen belanja besar untuk program prioritas. Ambil contoh program MBG. Kalau nggak ada realokasi anggaran yang cermat, defisit APBN bisa melebar.
Selain soal anggaran, perang juga bakal mengubah aliran modal global. Investor biasanya kabur ke instrumen aman seperti surat utang AS atau emas. Alhasil, modal akan mengalir deras keluar dari negara berkembang. Rupiah? Bisa tertekan lebih dalam lagi.
Intinya, situasinya rumit dan penuh ketidakpastian. Setiap eskalasi di sana, guncangannya terasa hingga ke sini. Semua mata kini tertuju pada perkembangan di Timur Tengah, sambil berharap konflik tidak meluas lebih jauh.
Artikel Terkait
Pelaku Usaha Soroti Peluang Nyata di Balik Kesepakatan Ekonomi Indonesia-Inggris
Pajak Kripto Meroket Meski Transaksi Anjlok, Tembus Rp 719 Miliar
BULOG Tegaskan 7% Bukan Keuntungan, Tapi Kompensasi Negara
Komisaris PT Mutuagung Lestari Firdaus Wafat, Bisnis Tetap Berjalan