Ketegangan di Timur Tengah makin memanas, dan dunia pun menahan napas. Bukan cuma soal politik atau kemanusiaan, tapi juga stabilitas ekonomi global yang kini di ujung tanduk. Kalau konflik ini sampai melibatkan Amerika Serikat dan Iran secara langsung, dampaknya bakal luar biasa. Harga energi, nilai tukar mata uang, sampai aliran investasi internasional bisa kacau balau.
Memang, kawasan itu punya peran vital. Sebagai jantung perdagangan minyak dan gas dunia, gangguan sekecil apa pun di sana bisa memicu gejolak harga yang merambat ke mana-mana. Indonesia, yang masih bergantung pada impor energi, jelas akan merasakan getahnya.
Wijayanto Samirin, ekonom dari Universitas Paramadina, menggarisbawahi skenario terburuk. Menurutnya, serangan militer AS ke Iran bakal jadi pemicu kekacauan di pasar energi global. Meski produksi minyak Iran cuma sekitar 4% dari total dunia, pengaruhnya jauh lebih besar. Kenapa? Karena mereka menguasai pintu masuk strategis.
Ia menjelaskan, skenario terburuk itu di mana AS benar-benar menyerang akan membuat harga minyak dan LNG melonjak drastis. Kuncinya ada di Selat Hormuz. Iran bisa memblokade selat itu, yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dan LNG dunia. Itu dampaknya langsung terasa ke mana-mana.
Buat Indonesia, lonjakan harga energi berarti beban subsidi membengkak. Sekitar 60% kebutuhan kita masih impor, jadi anggaran pemerintah bakal tertekan berat. Di sisi lain, sebagai eksportir batubara dan net eksportir LNG, ada sedikit peluang dari kenaikan harga LNG. Tapi itu belum tentu menutupi kerugiannya.
Namun begitu, dampaknya nggak cuma berhenti di sektor energi. Wija juga mengingatkan, konflik besar bakal bikin dinamika politik dunia makin panas. Volatilitas nilai tukar, capital outflow, dan penurunan investasi langsung asing (FDI) jadi ancaman nyata. Beberapa ekonomi dunia, termasuk Indonesia, berpotensi masuk ke zona krisis.
Artikel Terkait
Pelaku Usaha Soroti Peluang Nyata di Balik Kesepakatan Ekonomi Indonesia-Inggris
Pajak Kripto Meroket Meski Transaksi Anjlok, Tembus Rp 719 Miliar
BULOG Tegaskan 7% Bukan Keuntungan, Tapi Kompensasi Negara
Komisaris PT Mutuagung Lestari Firdaus Wafat, Bisnis Tetap Berjalan