Namun begitu, bagi yang bermain di saham, fluktuasi ini justru bisa dilihat sebagai pintu masuk. Hans menekankan, kuncinya adalah fokus pada perusahaan dengan fundamental kokoh dan prospek pertumbuhan yang tinggi. Hanya saja, di pasar yang sedang bullish seperti sekarang, jangan terlalu berharap bisa membeli saham dengan harga miring atau sangat undervalue.
Katanya lagi.
Yang menarik, di balik tekanan terhadap rupiah dan aksi jual bersih investor asing, Hans justru masih optimis. Ia memegang teguh proyeksinya bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa mencapai level 10.000 pada akhir tahun 2026.
Keyakinannya ini punya dasar. Lihat saja ketahanan pasar sepanjang 2025 lalu. Waktu itu, IHSG mampu melesat 22,13 persen ke level 8.646. Padahal, aksi jual bersih asing mencapai nilai yang fantastis, Rp17,34 triliun. Fakta ini menunjukkan sesuatu yang penting: pasar saham kita semakin mandiri. Pergerakannya tidak lagi sepenuhnya bergantung pada modal asing.
Jadi, meski rupiah masih terengah-engah di dekat garis merah, cerita di pasar modal ternyata bisa sama sekali berbeda.
Artikel Terkait
PT Sinar Terang Mandiri (MINE) Catat Laba Rp200,83 Miliar Didorong Proyek Nikel
BULL Tambah Armada dengan Kapal Tanker LNG Kedua, Siap Operasi 2026
Wall Street Turun Tertekan Eskalasi Konflik Iran dan Ancaman Harga Minyak
Wall Street Turun Tertekan Ancaman Perang dan Lonjakan Harga Minyak