Nafas rupiah akhirnya sedikit lebih lega di akhir pekan ini. Pada penutupan perdagangan Jumat (23/1/2026), mata uang kita menguat tipis ke posisi Rp16.820 per dolar AS. Tapi jangan salah, kondisi ini masih jauh dari kata aman.
Posisinya masih sangat dekat dengan batas psikologis kritis Rp17.000. Rasanya seperti menahan napas, menunggu sentakan berikutnya.
Menurut Hans Kwee, praktisi pasar modal dan Co-Founder PasarDana, tekanan terhadap rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya datang dari mana-mana. Ketegangan geopolitik global yang memanas jadi pemicu utamanya. Situasi seperti ini bikin para investor asing panik. Mereka pun menarik modal dan berlindung ke aset yang dianggap aman, terutama dolar AS.
Ujar Hans dalam acara Edukasi Wartawan Pasar Modal di Jakarta, Jumat lalu.
Lalu, apa yang harus dilakukan investor di tengah gejolak seperti ini? Hans Kwee punya saran. Ia menyarankan untuk lebih jeli dan mempertimbangkan peralihan sementara ke instrumen yang lebih defensif. Pasar uang atau obligasi, misalnya, bisa jadi pilihan untuk menjaga stabilitas portofolio dari guncangan.
Artikel Terkait
Padel dan Optimisme: AEI Gelar Turnamen untuk Hangatkan Pasar Modal 2026
300 Perusahaan Batu Bara Belum Ajukan RKAB 2026, ESDM Ungkap Penyebabnya
OJK Prediksi 2026: Ekonomi Indonesia Tumbuh di Tengah Gejolak Global
Kredit UMKM Tembus Rp1.494 Triliun, Namun OJK Soroti Tren yang Mulai Melambat