Vietnam Pacu Ekonomi Dua Digit di Bawah Kepemimpinan Baru To Lam

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 13:42 WIB
Vietnam Pacu Ekonomi Dua Digit di Bawah Kepemimpinan Baru To Lam

Ambisi Vietnam tak berhenti di situ. Pemerintahnya berhasrat naik kelas dalam rantai nilai global. Mereka ingin mengembangkan industri masa depan: semikonduktor, otomasi, robotika, energi bersih, dan infrastruktur strategis. Target jangka panjangnya terbilang tinggi: membawa Vietnam menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045.

Tentu saja, jalan menuju target itu tidak mulus. Tantangan eksternal menghadang. Vietnam masih bernegosiasi dengan Amerika Serikat terkait tarif perdagangan, sambil harus tetap menjaga hubungan baik dengan China, mitra dagang terbesarnya. Meski dikenai tarif AS sebesar 20 persen, ekonomi Vietnam tahun lalu masih tumbuh sekitar 8 persen. Ekspansi kredit, kebijakan fiskal yang suportif, dan lonjakan pariwisata menjadi pendorong utamanya.

Menurut pengamat, arah kebijakan Lam ini menandai pergeseran penting. Berbeda dengan era pendahulunya, Nguyen Phu Trong, yang lebih menekankan disiplin partai dan stabilitas internal. Kini, fokusnya tampak semakin jelas: pertumbuhan ekonomi yang dipimpin sektor swasta, inovasi teknologi, dan investasi asing langsung.

“Ini bukan sekadar janji kebijakan baru, melainkan konsolidasi atas reformasi yang sudah berjalan,”

kata seorang ekonom. Kongres partai, menurutnya, adalah panggung bagi Lam untuk mengukuhkan agenda pertumbuhan agresif sebagai landasan kepemimpinannya ke depan.

Jadi, dengan kekuasaan politik yang menguat dan agenda reformasi yang ambisius, To Lam tampaknya ingin memastikan satu hal. Vietnam tidak hanya harus tumbuh cepat, tetapi juga naik kelas. Meski jalan di depannya dipastikan penuh tantangan, dari dalam maupun dari tekanan global yang tak kunjung reda.


Halaman:

Komentar