Harga emas dunia lagi-lagi mencetak rekor. Pada perdagangan Jumat lalu, tepatnya 23 Januari 2026, logam kuning itu menguat 0,4 persen ke level USD 4.957,10 per troy ons. Angka itu memang fantastis, tapi bagi sejumlah pengamat, ini baru permulaan. Mereka bilang, reli kenaikan ini masih panjang jalannya.
Hans Kwee, praktisi pasar modal dan Co-Founder PasarDana, punya proyeksi yang lebih menggoda. Menurutnya, harga emas berpeluang melonjak dua kali lipat dalam empat tahun ke depan. Pergeseran besar di peta ekonomi global jadi alasannya.
"Emas itu di 2030 diperkirakan masuk ke USD 10.000 per troy ons, tapi ini masih empat tahun lagi dari sekarang," ujar Hans.
"Tapi tahun ini saja targetnya USD 5.400-an (harga) emas," tambahnya dalam sebuah acara edukasi untuk wartawan yang digelar secara virtual.
Jadi, apa yang mendorong kenaikan gila-gilaan ini? Hans menjelaskan, pemicunya lebih fundamental ketimbang sekadar ketegangan geopolitik belaka. Ia mengutip proyeksi dari raksasa keuangan macam Bank of America, Goldman Sachs, dan Deutsche Bank yang memprediksi kenaikan hingga 20 persen dalam waktu dekat.
Dunia, katanya, sedang memasuki fase de-dolarisasi. Bank-bank sentral di berbagai negara mulai ramai-ramai menimbun emas untuk cadangan devisa. Alasannya klasik: rasa khawatir terhadap keamanan aset berbasis dolar AS.
"Emas ini naik karena tensi geopolitik menyebabkan orang cenderung bergerak ke emas," papar Hans.
"Tapi yang kedua adalah sesudah perang Ukraina-Rusia, dolar Rusia itu dibekukan, sehingga dunia itu menyadari, 'kita enggak bisa megang dolar lagi.' Kemudian setelah Trump jadi presiden lagi, dunia tau bahwa perang tarif ini merugikan mereka sehingga mereka tidak mau pegang dolar, beralih ke emas. Ini menyebabkan bank sentral itu beli emas terus," ujarnya menerangkan.
Intinya, fenomena transisi global ini jadi pendorong utama yang sangat kuat. "Kenaikan emas itu bukan cuma karena geopolitik, tetapi karena dunia sedang berubah meninggalkan dolar dengan memegang emas," tegas dia.
Lalu, bagaimana dampaknya di dalam negeri? Langsung terasa. Harga emas Antam 24 karat melesat drastis Rp 90.000 per gram, mencapai level baru yang mengejutkan: Rp 2.880.000 per gram. Data resmi dari Logam Mulia itu jelas mencerminkan satu hal: tingginya permintaan investor lokal yang ingin mengamankan aset. Fluktuasi nilai tukar dan ketidakpastian pasar global membuat mereka berpaling ke logam mulia.
Semua mata kini tertuju pada grafik emas. Apakah prediksi menuju USD 10.000 itu akan jadi kenyataan? Waktu yang akan menjawabnya.
Artikel Terkait
BEI Rompak Konstituen LQ45 dan IDX80, BREN dan DSSA Tersingkir karena Aturan Baru Kepemilikan Saham
Saham Teknologi dan Harapan Damai Iran Dorong S&P 500 serta Nasdaq ke Rekor Tertinggi Baru
S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru Ditopang Harapan Damai AS-Iran serta Lonjakan Saham Semikonduktor
Saham Teknologi dan Harapan Damai Iran Dorong S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi