Pekan ini, rupiah sempat menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Sentimennya memang berat. Tapi, jika dibandingkan dengan kerabat-kerabatnya di Asia, tekanan pada mata uang kita ternyata tidak seburuk itu.
Menurut data Bloomberg per Selasa (10/3/2026), sejak konflik Timur Tengah memanas di Maret, rupiah terdepresiasi sekitar 1,09%. Angka itu, dalam pandangan David Sutyanto, Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), justru terbilang moderat. Ia menilai gejolak ini lebih banyak dipicu oleh badai sentimen global, bukan karena fondasi dalam negeri yang rapuh.
Begitu penjelasannya dalam pernyataan resmi. Intinya, ini adalah guncangan global yang dirasakan hampir semua pasar berkembang, bukan masalah spesifik Indonesia.
David lalu membandingkan. Won Korea Selatan dan Peso Filipina, misalnya, tercatat tertekan jauh lebih dalam masing-masing mencapai 3,62% untuk periode yang sama. Kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga minyaklah biang keroknya, yang sangat menghantam negara-negara dengan ketergantungan impor energi tinggi seperti Korea Selatan.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia yang juga mengimpor minyak?
Di sini, ceritanya agak berbeda. David menerangkan bahwa Indonesia punya penopang lain yang cukup kokoh.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp8.000, Sentuh Rp3,047 Juta per Gram
Iran Ancam Harga Minyak Bisa Tembus USD200 per Barel
Pasar Saham Asia Bangkit, Minyak Anjlok Usai Komentar Trump Soal Perang Timur Tengah
Menteri Keuangan Tegaskan Harga BBM Subsidi Belum Akan Dinaikkan