"Emas ini naik karena tensi geopolitik menyebabkan orang cenderung bergerak ke emas," papar Hans.
"Tapi yang kedua adalah sesudah perang Ukraina-Rusia, dolar Rusia itu dibekukan, sehingga dunia itu menyadari, 'kita enggak bisa megang dolar lagi.' Kemudian setelah Trump jadi presiden lagi, dunia tau bahwa perang tarif ini merugikan mereka sehingga mereka tidak mau pegang dolar, beralih ke emas. Ini menyebabkan bank sentral itu beli emas terus," ujarnya menerangkan.
Intinya, fenomena transisi global ini jadi pendorong utama yang sangat kuat. "Kenaikan emas itu bukan cuma karena geopolitik, tetapi karena dunia sedang berubah meninggalkan dolar dengan memegang emas," tegas dia.
Lalu, bagaimana dampaknya di dalam negeri? Langsung terasa. Harga emas Antam 24 karat melesat drastis Rp 90.000 per gram, mencapai level baru yang mengejutkan: Rp 2.880.000 per gram. Data resmi dari Logam Mulia itu jelas mencerminkan satu hal: tingginya permintaan investor lokal yang ingin mengamankan aset. Fluktuasi nilai tukar dan ketidakpastian pasar global membuat mereka berpaling ke logam mulia.
Semua mata kini tertuju pada grafik emas. Apakah prediksi menuju USD 10.000 itu akan jadi kenyataan? Waktu yang akan menjawabnya.
Artikel Terkait
IHSG Sentuh Rekor Tertinggi, Investor Asing Tetap Borong Saham
Dana Segar BUMN dan Obligasi Pacu Investasi Danantara ke USD 14 Miliar
Intel Tersandung, Wall Street Menanti Bukti Nyata dari Hype AI
Intel Terjun Bebas, Pasar Saham AS Berakhir Pekan dengan Sentimen Hati-Hati