Gejolak di Timur Tengah benar-benar memukul pasar. Harga minyak mentah melonjak drastis Senin dini hari, dipicu oleh ketegangan yang makin memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Jenis Brent dari Laut Utara sempat menyentuh angka 120 dolar AS per barel. Angka itu naik hampir 30 persen! Meski kemudian sedikit mereda ke posisi 107 dolar di pagi harinya, tetap saja harganya jauh lebih tinggi ketimbang akhir pekan lalu.
Kenaikan untuk minyak WTI asal AS bahkan lebih curam. Lonjakannya mencapai 21 persen, menembus 120 dolar juga sebelum akhirnya stabil di sekitar 113 dolar. Intinya, sejak konflik bersenjata meletus akhir Februari lalu, harga minyak dunia sudah naik hampir setengahnya. Situasi yang cukup mencemaskan.
Indonesia: Harga Dalam Negeri (Masih) Tenang
Di tengah badai harga global, kabar baik justru datang dari dalam negeri. Berdasarkan pantauan, harga BBM di Indonesia terpantau stabil sepanjang awal Maret ini. Kok bisa? Ternyata, pemerintah punya formula khusus lewat indikator ICP dan nilai tukar rupiah, ditambah lagi dengan skema subsidi yang sudah disiapkan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam wawancaranya dengan Reuters mengonfirmasi hal ini. Pemerintah bertekad menyerap guncangan ini lewat anggaran negara.
"Bahkan jika harga minyak global naik, kami akan menyerap (krisis) dengan anggaran dan akan sebisa mungkin mengendalikan dampaknya," tegas Purbaya.
Dia mengungkap, Indonesia sudah mengalokasikan dana sekitar 381 triliun rupiah untuk subsidi energi dan kompensasi ke Pertamina dan PLN. Anggaran itu dibuat dengan asumsi harga minyak 70 dolar per barel dan kurs Rp 16.500. Namun, Purbaya juga mengingatkan risiko. Jika harga minyak global mencapai 90-92 dolar, defisit anggaran bisa melebar hingga 3,6% dari PDB. Kalau sudah begitu, pemangkasan belanja mungkin tak terhindarkan untuk menjaga batas defisit maksimal 3%.
Bursa Asia Terkapar
Dampak lonjakan harga minyak ini langsung terasa di lantai bursa. Pasar saham Asia Timur anjlok parah. Di Tokyo, indeks Nikkei 225 terjun bebas lebih dari lima persen. Seoul, Korea Selatan, bahkan lebih parah dengan penurunan hampir enam persen.
Indonesia pun tak luput. IHSG melemah 3,27% dengan hampir semua sektor catatkan pelemahan. Sektor transportasi dan logistik jadi yang terpuruk, amblas lebih dari 5%. Kerugian serupa juga terjadi di Eropa, dengan indeks utama Jerman, DAX, yang membuka pekan dengan penurunan tajam.
"Jepang dan Korea adalah mesin industri raksasa yang digerakkan oleh minyak impor. Jika harga minyak mentah melonjak, dampaknya langsung terasa pada perusahaan," jelas Stephen Innes, analis dari SPI Asset Management.
Ketergantungan yang tinggi itu membuat negara seperti Jepang dilaporkan mulai mempertimbangkan untuk melepas cadangan minyak strategisnya.
Masalah Besar di Selat Hormuz
Pusat gejolak pasar minyak saat ini jelas ada di Selat Hormuz. Selat vital yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman itu praktis tak bisa dilalui sejak serangan dan serangan balasan antara AS-Israel dan Iran terjadi. Padahal, sebelum perang, sekitar 20% minyak dunia melintas di jalur sempit ini setiap harinya. Gas alam cair dari Qatar juga mengalir lewat sini.
Banyak investor kini cemas. Kekhawatiran terbesar adalah situasi yang terus memburuk akan mengganggu produksi minyak di kawasan itu secara lebih permanen.
Peringatan dari Qatar
Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Menteri Energi Qatar, Saad al-Kaabi, dalam wawancara dengan Financial Times akhir pekan lalu memberikan peringatan serius. Dia bilang, perang ini bisa berakibat fatal pada pasokan energi.
Menurutnya, ada kemungkinan semua negara produsen di Teluk Persia terpaksa menghentikan produksi dalam beberapa minggu ke depan. Jika skenario terburuk itu terjadi, harga minyak bisa melesat hingga 150 dolar AS per barel. Qatar sendiri, sebagai pemasok gas alam cair terbesar dunia, sempat menghentikan ekspor selama beberapa hari pasca perang meletus.
Serangan ke Kilang Bahrain
Konflik semakin nyata dampaknya setelah Iran melancarkan serangan ke kilang minyak di Bahrain. Kompleks kilang besar Maameer dilaporkan mengalami kerusakan. Perusahaan minyak negara setempat, Bapco Energies, sampai harus menyatakan kondisi 'force majeure' untuk pengiriman energinya. Pernyataan itu membebaskan mereka dari kewajiban kontrak akibat keadaan di luar kendali.
Meski produsen minyak terkecil di kawasan Teluk, Bahrain adalah bagian dari aliansi OPEC . Gangguan di sana menambah daftar masalah pasokan.
Gas Eropa Juga Ikut Naik
Bukan cuma minyak. Harga gas alam di Eropa ikut meroket. Di bursa Amsterdam, harga acuan TTF melonjak 30 persen, sempat mencapai 69,70 euro per MWh sebelum akhirnya turun ke 61,80 euro. Itu masih 16% lebih tinggi dari harga Jumat lalu.
Lonjakan ini adalah yang tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina lebih dari empat tahun yang lalu. Perang di Timur Tengah benar-benar mengacaukan pasar energi global.
Respons Negara-Negara G7
Merespon krisis ini, para menteri keuangan negara-negara industri G7 dikabarkan akan segera bertemu. Agenda utamanya adalah membahas kemungkinan melepas cadangan minyak strategis secara terkoordinasi lewat Badan Energi Internasional (IEA). Sumber pemerintah Prancis mengonfirmasi rencana ini, yang sebelumnya juga dilaporkan oleh Financial Times. Konon, setidaknya tiga negara anggota termasuk AS sudah mendukung langkah tersebut.
Cuitan Khas Trump
Sementara dunia khawatir, Presiden AS Donald Trump punya pandangan lain. Melalui akun Truth Social-nya, dia menyebut kenaikan harga energi ini hanyalah "pengorbanan kecil".
"Harga minyak sekarang ini, yang akan kembali turun dengan cepat setelah ancaman nuklir Iran dihilangkan. Ini adalah harga yang sangat kecil untuk keamanan dan perdamaian Amerika Serikat serta dunia," tulisnya.
Dan seperti biasa, dia menutup dengan kalimat khas: "Hanya orang bodoh yang melihatnya berbeda!"
Artikel Terkait
Pelindo dan 14 BUMN Luncurkan Program TJSL Terintegrasi untuk Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat di Raja Ampat
Direktur PLN Suroso Isnandar Resmi Jadi Anggota Majelis Wali Amanat UGM Periode 2026–2031
PepsiCo Terapkan Air Daur Ulang di Pabrik Cikarang demi Target Net Water Positive 2030
Wakil Mensos Instruksikan Sentra Kemensos Fokus pada Pemberdayaan Penerima Manfaat Menuju Kemandirian