PepsiCo Terapkan Air Daur Ulang di Pabrik Cikarang demi Target Net Water Positive 2030

- Jumat, 24 April 2026 | 21:30 WIB
PepsiCo Terapkan Air Daur Ulang di Pabrik Cikarang demi Target Net Water Positive 2030

Di Cikarang, ada pabrik PepsiCo dengan kapasitas 24 ribu ton per tahun. Di sana, mereka memproduksi camilan-camilan yang udah nggak asing lagi Lay's, Cheetos, sama Doritos. Produksi sebesar itu jelas butuh air yang nggak sedikit. Nah, ini jadi tantangan tersendiri, apalagi perusahaan lagi ngejar target yang namanya Net Water Positive di tahun 2030.

Jim Andrew, Chief Sustainability Officer PepsiCo Global, bilang salah satu jurusnya adalah pakai air daur ulang. Mereka kerja sama dengan perusahaan air minum lokal buat ngolah air bekas pakai. “Air itu kami gunakan untuk mencuci kentang, misalnya. Jadi ya, air daur ulang,” katanya dalam wawancara di Jakarta, Jumat (24/4).

Dia jelasin, air daur ulang bukan berarti air kotor. Prosesnya, air yang udah dipakai diolah lagi sampai memenuhi standar mutu, baru siap dipake ulang. Di luar itu, perusahaan juga sebisa mungkin ngurangin pemakaian air dari awal.

Ngerti nggak sih, apa itu Net Water Positive? Sederhananya, kondisi di mana air yang dipake operasional perusahaan lebih sedikit dibanding air yang dikembalikan ke daerah sumber air atau watershed. Jadi bukan cuma ngirit, tapi juga ngembaliin.

Di Indonesia sendiri, Jim cerita kalau PepsiCo udah punya program reforestasi di daerah sumber air. “Kami punya proyek pemulihan air di Sukabumi. Di sana, kami menanam tujuh ribu bibit di lahan seluas 30 hektare,” ujarnya.

Sekarang, soal besarnya kebutuhan air di industri pangan. Menurut Institution of Chemical Engineer (Icheme) dalam green paper mereka, saat populasi dunia nanti tembus 9 miliar jiwa di 2050, kebutuhan pangan bakal bikin tekanan besar ke sumber air tawar. Nggak main-main.

Produksi pangan itu memang tergantung banget sama air. Sekitar 70 persen air tawar dipake buat pertanian, 20 persen buat industri produksi dan pengolahan pangan, dan sisanya cuma 10 persen buat keperluan rumah tangga kayak minum dan mandi.

Di Amerika Serikat, seorang ahli studi makanan dan minuman, Herb Erickson, ngungkapin data yang cukup mencengangkan. Tahun 2015 lalu, pabrik makanan dan minuman di AS aja udah ngonsumsi sekitar 4,8 miliar galon air per hari. Makanya, inovasi-inovasi baru mutlak diperlukan. Soalnya, tekanan pada sumber daya air tawar bakal makin besar dari kebutuhan sosial-ekonomi, pertumbuhan penduduk, sampai perubahan iklim.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar