Iran Ancam Harga Minyak Bisa Tembus USD200 per Barel

- Selasa, 10 Maret 2026 | 09:40 WIB
Iran Ancam Harga Minyak Bisa Tembus USD200 per Barel

JAKARTA Ancaman baru menggantung di pasar energi global. Iran baru-baru ini mengeluarkan peringatan keras: harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga menyentuh angka fantastis, USD200 per barel. Pemicunya? Serangan berkelanjutan dari Amerika Serikat dan Israel terhadap infrastruktur energi mereka. Peringatan ini datang di saat harga minyak sudah berada di level tertinggi sejak 2022, yakni sekitar USD100 per barel.

Menurut sejumlah saksi, situasinya memang memanas. Israel dilaporkan menyerang tangki penyimpanan di kilang minyak Teheran. Serangan itu begitu hebat hingga pemerintah Iran terpaksa mengambil langkah darurat: mengurangi jatah bahan bakar untuk masyarakat. Pemandangan dramatis pun tercipta di ibu kota, dengan setidaknya lima lokasi energi di sekitar Teheran menjadi sasaran serangan udara.

“Kalau Anda sanggup menanggung harga minyak di atas USD200 per barel, silakan lanjutkan permainan ini,”

Begitu kira-kira pernyataan tegas seorang juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, seperti yang dikutip media. Pernyataan itu jelas sebuah ultimatum.

Konflik ini sebenarnya sudah merembet ke mana-mana. Sejak awal, Iran dan kelompok-kelompok pendukungnya tak tinggal diam. Mereka balas menyerang fasilitas-fasilitas minyak di negara penghasil utama kawasan, sebut saja Arab Saudi, Irak, dan Kuwait. Imbasnya, produksi minyak di negara-negara itu pun terganggu. Bahkan perusahaan minyak nasional Kuwait terpaksa mengumumkan pengurangan produksi sebagai langkah antisipasi.

Di sisi lain, arus perdagangan global juga terhambat. Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui seperlima kapal tanker minyak dan gas dunia, praktis ditutup selama seminggu. Bayangkan dampaknya.

Lalu, bagaimana reaksi pasar? Cukup ekstrem. Harga minyak mentah Brent, patokan internasional, sempat melesat hingga USD119,50 per barel di perdagangan awal minggu di kawasan Asia Pasifik. Ini jadi kali pertama harga tembus ambang psikologis USD100 sejak invasi Rusia ke Ukraina dulu. Sentimen panik jelas mendorongnya.

Namun begitu, kenaikan gila-gilaan itu nggak bertahan lama. Kabar bahwa para menteri keuangan G7 akan membahas pelepasan cadangan minyak bersama-sama berhasil meredakan ketegangan. Pada akhir hari yang sama, harga Brent merosot tajam ke posisi USD85 per barel. Patokan WTI untuk minyak AS juga mengalami nasib serupa, turun ke USD86 per barel setelah sebelumnya nyaris menyentuh USD103.

Jadi, meski ancaman USD200 per barel terdengar menyeramkan, pasar sepertinya masih punya napas. Volatilitas tinggi masih akan terus terjadi, tapi langkah-langkah politik dan cadangan strategis masih mampu jadi penahan guncangan. Untuk sementara.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar