JAKARTA Ancaman baru menggantung di pasar energi global. Iran baru-baru ini mengeluarkan peringatan keras: harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga menyentuh angka fantastis, USD200 per barel. Pemicunya? Serangan berkelanjutan dari Amerika Serikat dan Israel terhadap infrastruktur energi mereka. Peringatan ini datang di saat harga minyak sudah berada di level tertinggi sejak 2022, yakni sekitar USD100 per barel.
Menurut sejumlah saksi, situasinya memang memanas. Israel dilaporkan menyerang tangki penyimpanan di kilang minyak Teheran. Serangan itu begitu hebat hingga pemerintah Iran terpaksa mengambil langkah darurat: mengurangi jatah bahan bakar untuk masyarakat. Pemandangan dramatis pun tercipta di ibu kota, dengan setidaknya lima lokasi energi di sekitar Teheran menjadi sasaran serangan udara.
“Kalau Anda sanggup menanggung harga minyak di atas USD200 per barel, silakan lanjutkan permainan ini,”
Begitu kira-kira pernyataan tegas seorang juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, seperti yang dikutip media. Pernyataan itu jelas sebuah ultimatum.
Konflik ini sebenarnya sudah merembet ke mana-mana. Sejak awal, Iran dan kelompok-kelompok pendukungnya tak tinggal diam. Mereka balas menyerang fasilitas-fasilitas minyak di negara penghasil utama kawasan, sebut saja Arab Saudi, Irak, dan Kuwait. Imbasnya, produksi minyak di negara-negara itu pun terganggu. Bahkan perusahaan minyak nasional Kuwait terpaksa mengumumkan pengurangan produksi sebagai langkah antisipasi.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp8.000, Sentuh Rp3,047 Juta per Gram
Pasar Saham Asia Bangkit, Minyak Anjlok Usai Komentar Trump Soal Perang Timur Tengah
Rupiah Tertekan Global, Pelemahan Masih Lebih Moderat Dibanding Mata Uang Asia Lain
Menteri Keuangan Tegaskan Harga BBM Subsidi Belum Akan Dinaikkan