Pasar Saham Asia Bangkit, Minyak Anjlok Usai Komentar Trump Soal Perang Timur Tengah

- Selasa, 10 Maret 2026 | 09:20 WIB
Pasar Saham Asia Bangkit, Minyak Anjlok Usai Komentar Trump Soal Perang Timur Tengah

Pasar saham Asia bangkit dengan optimisme di awal sesi Selasa (10/3/2026). Ini adalah pemandangan yang kontras dengan gejolak liar yang terjadi sehari sebelumnya. Di sisi lain, harga minyak justru terjun bebas, anjlok tajam ke level di bawah 90 dolar AS per barel. Semua ini terjadi setelah pernyataan mengejutkan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Trump menyebut perang di Timur Tengah bisa "segera berakhir". Kalimat singkat itu cukup untuk mengubah sentimen pasar yang sempat panik. Indeks MSCI untuk kawasan Asia-Pasifik (di luar Jepang) langsung meroket 2,6 persen, memulihkan sebagian kerugian sejak konflik meletus.

Namun begitu, situasi di lapangan ternyata tidak segaris dengan optimisme pasar. Di Iran, kelompok garis keras justru berkumpul untuk menunjukkan dukungan penuh kepada Pemimpin Tertinggi baru, Mojtaba Khamenei. Sinyal yang saling bertentangan inilah yang sebelumnya membuat dunia kebingungan pada hari Senin.

Waktu itu, harga minyak melambung dan saham Wall Street jatuh. Baru kemudian pasar berbalik arah setelah komentar Trump dan kabar bahwa Washington mungkin akan melonggarkan sanksi energi terhadap Rusia.

Tony Sycamore, seorang analis di IG Sydney, menyoroti hal ini. Menurutnya, meski kepanikan jangka pendek mulai reda, terlalu naif untuk percaya bahwa konflik ini benar-benar "sangas selesai".

"Tapi, pelunakan retorika Presiden Trump itu jelas perkembangan positif. Dari menuntut penyerahan total, sekarang dia bilang misinya 'sangat selesai'. Setidaknya ini membantu menenangkan pasar Asia hari ini," ujar Sycamore.

Pulihnya kepercayaan investor terlihat jelas. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 3,6 persen. Bahkan, Kospi Korea Selatan melesat luar biasa, naik 6,4 persen. Kenaikan drastis ini memaksa Bursa Korea mengaktifkan mekanisme sidecar dan menghentikan perdagangan program selama lima menit.

Meski demikian, jangan dulu berpesta. Latar belakangnya masih sangat tegang. Militer Iran sudah mengeluarkan peringatan keras soal serangan misil lanjutan. Trump pun membalas ancaman dengan nada yang tak kalah garang lewat unggahan di Truth Social.

"Jika Iran melakukan sesuatu yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dipukul oleh AS DUA PULUH KALI LEBIH KERAS dibanding yang sudah mereka alami sejauh ini," tulisnya.

Di pasar obligasi, ada sedikit kelegaan. Surat utang pemerintah AS mulai pulih setelah sebelumnya tertekan kekhawatiran inflasi akibat minyak. Imbal hasil obligasi 10 tahun turun tipis ke 4,109 persen. Pelaku pasar juga kini memprediksi The Fed baru akan memangkas suku bunga pada Juli, lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.

Analis ING punya pandangan yang lebih berhati-hati. Mereka mengakui imbal hasil obligasi masih berada di level yang mengkhawatirkan.

"Kami perkirakan imbal hasil nominal akan turun untuk sementara. Tapi jangan berharap reli besar yang berkelanjutan," tulis mereka dalam sebuah catatan. "Inflasi masih jadi tantangan nyata. Ekonomi mungkin melemah, tapi belum keluar dari permainan."

Sementara itu, dolar AS melemah sedikit. Indeks yang mengukur kekuatannya terhadap mata uang utama dunia turun 0,1 persen, menghapus semua kenaikan yang diraih dalam sepekan terakhir. Pasar tampaknya mengambil jeda sejenak, menunggu perkembangan selanjutnya dari kancah geopolitik yang masih sangat panas.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar