“Tidak ada solusi instan dalam perangkat kebijakan BOJ yang mampu menahan pelemahan yen sekaligus menekan kenaikan suku bunga secara bersamaan,” ujar Ueno.
Ia menambahkan, andai kata BOJ nekat melakukan pembelian obligasi darurat atau mengubah rencana pengurangan pembelian aset untuk menekan imbal hasil, langkah itu justru akan ditafsirkan sebagai pelonggaran moneter.
“Yen sangat mungkin akan kembali melemah,” tegasnya.
Dalam konferensi persnya, Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengakui suku bunga jangka panjang memang naik dengan cukup cepat. Dia bilang, BOJ bisa turun tangan dalam kondisi yang luar biasa.
“Kami dapat melakukan operasi pasar secara fleksibel untuk memfasilitasi pembentukan suku bunga yang stabil di pasar,” kata Ueda.
Soal kenaikan suku bunga ke depan, Ueda kembali menegaskan komitmennya. BOJ akan menaikkan suku bunga jika kondisi ekonomi dan inflasi membaik, sesuai dengan proyeksi mereka.
BOJ juga merilis proyeksi terbaru. Mereka memperkirakan inflasi inti (tidak termasuk makanan segar) akan mencapai 2,7 persen hingga Maret 2026. Setelah itu, diproyeksikan turun ke 1,9 persen, baru kembali ke level 2 persen pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2028.
Data terpisah dari pemerintah pada hari yang sama menunjukkan sedikit penurunan. Inflasi umum Jepang pada Desember turun jadi 2,1 persen, dari sebelumnya 2,9 persen di November. Penurunan ini terutama karena subsidi pemerintah untuk listrik dan energi. Tapi, inflasi inti yang tidak termasuk pangan dan energi justru tetap kuat di angka 2,9 persen, didorong tekanan harga pada produk-produk non-makanan segar.
Jadi, ceritanya jadi rumit. Di satu sisi, angka inflasi umum turun karena intervensi pemerintah. Di sisi lain, tekanan harga di sektor lain masih keras, sementara pasar uang dan obligasi terus bergolak. BOJ seperti terjepit di tengah-tengah.
Artikel Terkait
Intel Tersandung, Wall Street Menanti Bukti Nyata dari Hype AI
Intel Terjun Bebas, Pasar Saham AS Berakhir Pekan dengan Sentimen Hati-Hati
Darma Henwa Gelontorkan Rp110 Miliar untuk Beli Kembali Saham
Emas Antam Tembus Rp 2,88 Juta, Danantara Siapkan Rp 220 Triliun untuk Investasi Strategis