“Sekaligus mempertegas dukungan kami terhadap program transisi energi, mendorong dekarbonisasi, dan tentu saja menaikkan porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional,” tambahnya.
Proses seleksinya sendiri punya dasar hukum yang jelas, merujuk pada Permen ESDM No. 36/2017 dan berpedoman pada dokumen pemilihan resmi. Jadi, semuanya berjalan di koridor yang sudah ditetapkan.
Sebagai pionir dengan pengalaman lebih dari empat dekade, PGEO bukan nama baru di bidang ini. Saat ini, mereka mengelola kapasitas terpasang 727 MW dari enam wilayah operasi. Tapi mereka tak berhenti di situ.
Sejumlah proyek strategis sedang digarap. Misalnya PLTP Hululais Unit 1 & 2 berkapasitas 110 MW, plus proyek co-generation dengan total kapasitas 230 MW. Di sisi lain, persiapan untuk PLTP Lumut Balai Unit 3 (55 MW) juga sudah berjalan, dengan target operasi komersial pada 2030.
Semua portofolio pengembangan ini bukan cuma soal bisnis. Ini adalah bagian dari upaya konkret mendukung swasembada energi dan target ambisius Net Zero Emission Indonesia di tahun 2060. Sebuah langkah panjang yang dimulai dari satu penugasan di Cubadak Panti.
Artikel Terkait
Jatis Mobile Siapkan Buyback Saham Senilai Rp35 Miliar untuk Stabilisasi Harga
PT Sinar Terang Mandiri (MINE) Catat Laba Rp200,83 Miliar Didorong Proyek Nikel
BULL Tambah Armada dengan Kapal Tanker LNG Kedua, Siap Operasi 2026
Wall Street Turun Tertekan Eskalasi Konflik Iran dan Ancaman Harga Minyak