Pemerintah Tegaskan Belum Ubah APBN 2026 Meski Harga Minyak Sempat Sentuh US$100

- Kamis, 12 Maret 2026 | 15:15 WIB
Pemerintah Tegaskan Belum Ubah APBN 2026 Meski Harga Minyak Sempat Sentuh US$100

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah belum akan mengubah anggaran negara. Alasannya, harga minyak mentah Indonesia atau ICP masih berkutat di angka sekitar US$68 per barel.

Angka itu, menurut Purbaya, masih jauh di bawah asumsi makro yang tercantum dalam APBN 2026, yaitu US$70 per barel. "Estimasi kami, realisasi ICP dan average year to date hingga 1 Maret 2026 sekitar US$68 per barel ini sudah memasukkan kenaikan US$120 [per barel] sementara itu ya," jelasnya, Kamis (11/3/2026).

Pernyataan ini sekaligus menjawab kekhawatiran banyak pihak. Soalnya, harga minyak sempat melonjak dan menyentuh level US$100 per barel.

"Banyak yang tanya harga minyak [sempat menyentuh] US$100 per barel, apakah pemerintah akan mengubah APBN-nya? Belum, karena dari sini sampai kemarin masih US$68 per barel," papar Purbaya.

Di sisi lain, Menkeu meyakinkan bahwa kondisi fiskal saat ini masih punya ruang untuk menahan gejolak. Ruang itu akan dipakai untuk memitigasi potensi lonjakan belanja subsidi BBM jika harga minyak dunia benar-benar naik tajam.

Tak cuma soal anggaran, Purbaya juga menyinggung target produksi migas. Pemerintah, kata dia, bakal berupaya memenuhi target lifting. Tujuannya jelas: menekan ketergantungan pada impor.

Sementara itu, dari internal Kementerian Keuangan, Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Febrio Nathan Kacaribu turut angkat bicara. Ia mengonfirmasi bahwa pihaknya terus memantau situasi dengan ketat, terutama dampak konflik geopolitik terhadap harga energi global.

"Kami terus akan pantau seperti sering dijelaskan, APBN terus kami kelola dari sisi penerimaan bagus sekali pertumbuhannya dalam dua bulan pertama 2026 dan juga belanja akan selalu kami kelola sedemikian rupa," tegas Febrio.

Jadi, untuk saat ini, sinyal dari pemerintah terasa cukup jelas. Mereka memilih untuk menunggu dan melihat, sambil bersiap dengan berbagai skenario. Semuanya bergantung pada arah pergerakan harga minyak di pasar dunia dalam beberapa waktu ke depan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar