Saham AADI dan ADMR: Bergerak Sunyi di Balik Layar
Di tengah hiruk-pikuk pasar, ada yang bergerak tanpa banyak sorotan. Saham-saham energi dan tambang yang berafiliasi dengan konsorsium Garibaldi 'Boy' Thohir, seperti AADI dan ADMR, ternyata sedang dalam tren penguatan yang cukup konsisten. Perhatian seolah tersedot ke tempat lain, padahal grafik mereka merangkak naik diam-diam.
Lihat saja data perdagangan Jumat (23/1/2026) kemarin. Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melesat 5,64 persen ke level Rp8.425 per unit. Transaksinya mencapai Rp378,37 miliar angka yang tidak bisa dibilang kecil. Dalam sebulan terakhir, kenaikannya bahkan hampir menyentuh 20 persen. Cukup impresif.
Nah, situasi serupa terjadi pada PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR). Sahamnya melompat 4,15 persen ke Rp2.260. Kalau dilihat dari kaca mata bulanan, performanya justru lebih fantastis: melambung lebih dari 60 persen. Sementara itu, saudaranya, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), juga ikut menguat meski lebih kalem, terkerek 0,43 persen.
Lantas, apa yang jadi pendorongnya?
Pengamat pasar modal Michael Yeoh punya pandangannya. Menurut dia, penguatan AADI ini erat kaitannya dengan fundamental perusahaan yang solid. Di saat investor mulai memutar asetnya, saham dengan fundamental kuat seperti ini jadi tujuan.
“Kita ketahui AADI merupakan salah satu company yang memiliki strong cash dengan porsi pemberian dividen yang besar. Kita bisa perhatikan terjadi shifting rotasi dari investor ke saham-saham basic fundamental seperti TLKM dan big banks yang cukup stabil sejak awal tahun,”
Begitu penjelasannya pada Jumat lalu.
Untuk ADMR, ceritanya agak berbeda. Prospeknya ditopang oleh bisnis aluminium yang perannya kian besar. Michael menyebut, kontribusi aluminium terhadap bottom line ADMR diproyeksi bisa tembus lebih dari 50 persen di tahun 2025.
“ADMR juga sebagai company dengan coking coal dan aluminium, sementara ada potensi aluminium akan menjadi bottom line dari ADMR pada 2025 hingga lebih dari 50 persen dari total pendapatan. Kita ketahui juga harga aluminium sejak tahun lalu sudah naik lebih dari 12 persen,”
imbuhnya. Ia bahkan menyebut ada target harga di kisaran Rp2.400 untuk ADMR, didukung sinyal teknikal yang positif.
Di sisi lain, analis Maybank Sekuritas Indonesia, Hasan Barakwan, memberikan sudut pandang lain untuk AADI. Dikutip dari Dow Jones Newswires, ia memperkirakan laba AADI di tahun 2025 akan stabil di angka USD757 juta. Kunci utamanya ada pada peningkatan produksi dan disiplin dalam mengendalikan biaya.
Menurut Hasan, keunikan AADI terletak pada bisnis batu bara termalnya yang terintegrasi vertikal. Biaya kasnya termasuk rendah, dan yang menarik, perusahaan ini tak terbebani oleh belanja modal untuk transisi energi hijau yang kerap membebani kinerja emiten sejenis. Potensi pertumbuhan tambahan juga terbuka lebar dari pengembangan tambang Pari dan Ratah.
Atas pertimbangan itulah, Maybank Sekuritas memberikan rekomendasi "beli" untuk AADI dengan target harga Rp10.000 per saham.
Perlu diingat, segala keputusan investasi ada di tangan Anda sendiri. Analisis ini hanya gambaran, bukan panduan mutlak.
Artikel Terkait
Hutama Karya Raup Laba Rp464 Miliar di Kuartal I-2026, Tembus 172 Persen Target
PT Sinar Terang Mandiri Tbk Bagikan Dividen Rp60,23 Miliar, Setara Rp14,75 per Saham
Indonet Tunjuk Donauly Elena Situmorang sebagai Direktur Utama, Gantikan Andrew Rigoli
IHSG Anjlok 6,6% dalam Sepekan, Saham Logistik Baru IPO Justru Melonjak 94%