Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) untuk pertama kalinya menunjuk seorang astronaut Eropa sebagai pilot dalam misi Artemis III, sebuah langkah yang menandai babak baru dalam kemitraan internasional di luar angkasa. Astronaut Italia Luca Parmitano resmi ditetapkan untuk mengemban peran tersebut, bergabung dengan tiga astronaut Amerika Serikat dalam penerbangan yang dijadwalkan berlangsung pada 2027.
Keputusan ini diumumkan langsung oleh Administrator NASA Jared Isaacman pada Selasa, 9 Juni 2026. Dalam pengumuman tersebut, Isaacman memperkenalkan kru inti yang terdiri dari empat orang beserta satu anggota cadangan. Misi Artemis III kali ini mengalami perubahan signifikan dari rencana awal. Alih-alih mendarat di Bulan, wahana yang diuji justru akan beroperasi di orbit Bumi untuk menguji coba sistem pendarat bulan generasi baru.
Komandan misi dipercayakan kepada astronaut NASA Randy Bresnik. Dua astronaut lainnya, Andre Douglas dan Frank Rubio, akan bertugas sebagai spesialis misi. Sementara itu, posisi pilot diisi oleh Parmitano yang mewakili Badan Antariksa Eropa (ESA). Seluruh kru akan mengorbit Bumi dan berlatih melakukan manuver penyambungan antara kapsul Orion dengan dua wahana pendarat bulan.
NASA menyebut pengujian ini sebagai tahap yang menantang sekaligus krusial. Keberhasilan misi ini akan menjadi fondasi bagi Artemis IV, yang direncanakan sebagai misi berawak pertama menuju kutub selatan Bulan pada 2028. Untuk mengantisipasi keadaan darurat, astronaut NASA Bob Hines ditunjuk sebagai anggota kru cadangan yang akan bersiaga penuh.
Artemis III dirancang untuk melampaui pencapaian Artemis II yang sukses dua bulan sebelumnya. Misi pada April lalu itu menjadi tonggak sejarah ketika manusia kembali mengelilingi Bulan untuk pertama kalinya dalam lebih dari lima dekade. Artemis II bahkan memecahkan rekor jarak yang sebelumnya dipegang oleh misi Apollo 13 pada 1970.
“Hari ini kita mengambil langkah berani berikutnya dalam upaya umat manusia kembali ke Bulan, dengan membangun fondasi luar biasa yang telah diletakkan para astronaut Artemis II,” ujar Jared Isaacman dalam pernyataannya.
“Para astronaut Artemis III, bersama ESA dan mitra internasional kami, serta puluhan ribu talenta terbaik di NASA dan industri antariksa, sedang membuka era keemasan baru eksplorasi ruang angkasa. Mereka membawa harapan dan impian generasi berikutnya, sebagaimana para astronaut Apollo menginspirasi banyak dari kita,” tambahnya.
Penunjukan Parmitano menjadikannya anggota non-Amerika kedua yang terlibat dalam program Artemis, setelah astronaut Badan Antariksa Kanada Jeremy Hansen yang terbang dalam misi Artemis II. Parmitano, yang kini berusia 49 tahun, terpilih sebagai astronaut ESA pada 2009 dan telah menyelesaikan dua misi di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Latar belakangnya sebagai lulusan Akademi Angkatan Udara Italia dan mantan pilot uji memberinya pengalaman luas, termasuk dalam menjalankan aktivitas luar wahana antariksa atau spacewalk yang dikenal berbahaya. Dalam salah satu spacewalk pada 2013, Parmitano nyaris kehilangan nyawa ketika helmnya mulai terisi air akibat kegagalan sistem pendingin pakaian antariksa saat ia menjalani aktivitas yang direncanakan berlangsung selama enam jam. Di luar karier antariksa, ia juga dikenal sebagai orang pertama yang menggelar pertunjukan disc jockey langsung dari luar angkasa.
“Saya merasa terhormat menjadi bagian dari kru ini, sekaligus rendah hati. Rekan-rekan saya membawa beragam pengalaman yang sangat berharga. Saya menantikan kesempatan bekerja bersama mereka, belajar, dan memberikan kontribusi terbaik sesuai peran saya,” kata Parmitano dalam pernyataannya setelah ditunjuk sebagai pilot utama Artemis III.
Keterlibatan Parmitano dalam program Artemis NASA dipandang sebagai kemenangan diplomatik bagi Italia, terutama ketika mitra-mitra internasional lain juga berupaya memperoleh peran yang lebih besar dalam eksplorasi antariksa. Presiden Badan Antariksa Italia Teodoro Valente menyatakan bahwa terpilihnya Parmitano untuk Artemis III “menegaskan sekaligus memperkuat peran dan kapabilitas sistem antariksa Eropa dan Italia dalam eksplorasi manusia terhadap alam semesta.”
Artikel Terkait
Kementerian Haji Bongkar Jaringan Penipuan Badal dan Kurban, Satu Pelaku Ditangkap di Arab Saudi
All Cipayung Nusantara Minta Sidang Kasus Dugaan Ijazah Palsu Jokowi Digelar Terbuka
Prabowo Tegaskan Komitmen Wujudkan Swasembada Pangan dan Energi demi Kemandirian Bangsa
Trump Ancam Serang Iran Habis-habisan Jika Tak Segera Capai Kesepakatan Damai