Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memproyeksikan laba bersih industri penerbangan global akan merosot tajam pada tahun ini, hanya mencapai 23 miliar dolar Amerika Serikat. Angka tersebut jauh di bawah perolehan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 45 miliar dolar AS, sekaligus menandai margin keuntungan terlemah sejak masa pandemi Covid-19.
IATA, yang mewakili lebih dari 370 maskapai penerbangan atau sekitar 85 persen lalu lintas penerbangan dunia, menyebut lonjakan harga bahan bakar avtur sebagai faktor utama penekan kinerja keuangan sektor ini. Total tagihan bahan bakar diprediksi melonjak menjadi sekitar 350 miliar dolar AS pada tahun ini, naik drastis dari 252 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini membuat biaya bahan bakar kini menyumbang hampir sepertiga dari total biaya operasional maskapai di seluruh dunia.
“Pasokan bahan bakar jet terancam, dan harganya telah meningkat hampir dua kali lipat sejak akhir Februari,” demikian pernyataan IATA dalam laporan tahunannya.
Di sisi lain, tekanan tambahan datang dari ketegangan geopolitik yang masih berlangsung. Maskapai global, khususnya yang berbasis di Eropa, terus menghadapi hambatan pada rute menuju Asia akibat penutupan wilayah udara Rusia yang berkaitan dengan perang di Ukraina. Sementara itu, di Amerika Serikat, harga avtur meningkat tajam menjelang puncak musim perjalanan musim panas. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap gangguan pengiriman energi melalui Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Data Kementerian Perhubungan AS yang dirilis pada Senin menunjukkan biaya bahan bakar melonjak 78 persen menjadi hampir 6,5 miliar dolar AS pada April tahun ini, setelah sebelumnya naik 26 persen pada Maret. Harga bahan bakar per galon (3,78 liter) juga meningkat sebesar 1,81 dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menjadi 4,11 dolar AS per galon. Imbasnya, tarif tiket pesawat di AS telah melonjak 5,5 persen sejak perang pecah, dengan rincian kenaikan 2,7 persen pada Maret dan tambahan 2,8 persen pada April, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja AS.
Meskipun harga bahan bakar melonjak, permintaan perjalanan domestik di AS masih tetap tinggi. American Automobile Association (AAA) memperkirakan sekitar 3,6 juta penumpang akan menggunakan penerbangan domestik selama akhir pekan Hari Memorial pada 23–25 Mei, yang secara tidak resmi menandai dimulainya musim panas di AS.
Namun, tekanan biaya yang semakin besar mulai mengancam keberlangsungan sejumlah maskapai. Maskapai berbiaya rendah Spirit Airlines menghentikan operasinya pada awal Mei setelah beroperasi selama tiga dekade. Dalam dokumen pengadilan, Spirit Airlines menyebut lonjakan harga bahan bakar sebagai salah satu penyebab utama kebangkrutannya.
Pada April lalu, CEO United Airlines Scott Kirby mengungkapkan bahwa maskapainya perlu menaikkan harga tiket hingga 20 persen untuk mengimbangi lonjakan biaya operasional. Pekan lalu, American Airlines juga mengumumkan penghentian sementara sejumlah rute penerbangan akibat kenaikan biaya yang tajam. Beberapa rute yang terdampak mencakup penerbangan lintas benua seperti Charlotte–Sacramento dan Los Angeles–Pittsburgh.
Artikel Terkait
BMKG Proyeksikan Musim Kemarau 2026 Lebih Panjang dan Kering, Imbau Sektor Pangan hingga Energi Bersiap
Kementerian Haji Bongkar Jaringan Penipuan Badal dan Kurban, Satu Pelaku Ditangkap di Arab Saudi
All Cipayung Nusantara Minta Sidang Kasus Dugaan Ijazah Palsu Jokowi Digelar Terbuka
Prabowo Tegaskan Komitmen Wujudkan Swasembada Pangan dan Energi demi Kemandirian Bangsa