Di tengah salju Davos, Wakil Perdana Menteri China He Lifeng tampil percaya diri. Di hadapan para pemimpin global dalam World Economic Forum, Selasa lalu, ia memamerkan sebuah pencapaian yang sulit diabaikan: surplus perdagangan negaranya yang justru membengkak meski mendapat tekanan tarif dari Amerika Serikat.
Pernyataannya ini datang di momen yang tepat. Baru-baru ini, China mencatat surplus perdagangan tertinggi sepanjang sejarahnya angka yang kemungkinan besar akan membuat sejumlah mitra dagangnya merasa tidak nyaman.
“Kami tidak hanya bersedia menjadi pabrik dunia, tetapi juga, dengan lebih antusias, menjadi pasar dunia,”
begitu penegasan He, seperti dikutip Reuters. Ia menegaskan kesiapan China untuk memanfaatkan pasar raksasanya dan bersikap lebih agresif dalam memperluas impor.
Lalu, bagaimana ceritanya bisa surplus membesar? Ternyata, permintaan global yang tetap kuat terhadap produk-produk China tahun lalu menjadi penyelamat. Faktor itu membantu ekonomi raksasa itu bertahan dari dua hal sekaligus: kebijakan dagang Trump yang sulit ditebak dan penjualan dalam negeri yang lesu. Hasilnya? Surplus neraca dagang menyentuh angka fantastis, USD 1,2 triliun.
Namun begitu, kesuksesan itu punya sisi lain. Ketergantungan yang besar pada ekspor telah menciptakan kelebihan kapasitas produksi. Situasi ini rentan memicu perlawanan dari negara-negara yang mati-matian ingin melindungi industri manufaktur mereka sendiri.
He, yang memimpin delegasi Beijing di Davos, hadir di tengah kerumunan sekitar 2.900 delegasi berkaliber. Forum itu dihadiri mulai dari kepala negara termasuk Trump hingga para petinggi perusahaan teknologi dan keuangan global. Kehadirannya sendiri cukup signifikan; ia adalah pejabat China dengan peringkat tertinggi ketiga yang hadir sejak kunjungan Presiden Xi Jinping pada 2017. Kabarnya, ia juga akan menggelar pertemuan tertutup dengan sejumlah pemimpin bisnis internasional.
Mencitrakan Diri sebagai Mitra yang Andal
Di forum bergengsi itu, delegasi Beijing berusaha menampilkan wajah yang bisa dipercaya. Mereka ingin China dilihat sebagai mitra perdagangan dan investasi yang stabil, terutama jika dibandingkan dengan kebijakan tarif AS yang dianggap tidak konsisten dan memaksa kebijakan yang nyatanya telah menggoyang baik rival maupun sekutu Amerika sendiri.
“Praktik sepihak dan perjanjian dagang dari sejumlah negara jelas melanggar prinsip dasar WTO,” ujar He, tanpa menyebut nama,
Artikel Terkait
Dasco Buka Suara: Usulan Tommy Djiwandono ke BI Berasal dari Perry Warjiyo
Rupiah Tembus Rp 17.000 di Bank, Pemerintah Serahkan Stabilisasi ke BI
Purbaya dan Perry Warjiyo Sinkronkan Langkah Hadapi Tekanan Rupiah
IHSG Tergelincir 113 Poin, Sektor Bahan Baku Jadi Penyelamat di Tengah Lautan Merah