“dan secara serius merusak tatanan ekonomi dan perdagangan internasional.”
Pesan yang ingin disampaikannya jelas: “China adalah mitra dagang semua negara, bukan lawan. Pembangunan China merupakan peluang, bukan ancaman.”
He bahkan menyentuh persoalan yang kerap jadi ganjalan. Dalam banyak kasus, keluhnya, “China ingin membeli, tetapi pihak lain tidak ingin menjual.” Komentar ini menyindir apa yang disebut Beijing sebagai “pan-sekuritisasi”, yaitu alasan keamanan nasional yang sering dipakai AS dan sekutunya untuk membatasi perdagangan.
Pesan keterbukaan ini sebenarnya bukan hal baru. Seorang eksekutif senior organisasi internasional berorientasi laba menyebut, narasi serupa sudah disampaikan China di Davos selama beberapa tahun terakhir. Tapi kali ini, mungkin lebih berapi-api.
Dan tampaknya pesan itu ada yang mendengar. Perdana Menteri Kanada Mark Carney pekan lalu menyebut China justru “lebih dapat diprediksi” ketimbang AS. Ia membandingkannya dengan Washington yang baru saja memangkas tarif untuk kendaraan listrik China, sebagai imbal balik atas kebijakan serupa untuk kanola Kanada.
Meski Sukses, Tantangan Tetap Menghadang
Di balik angka-angka megah itu, ekonomi China sebenarnya sedang dalam tekanan. Pertumbuhan memang mencapai target resmi sekitar 5 persen tahun lalu, tapi lajunya melambat ke titik terendah dalam tiga tahun di kuartal terakhir. Ini memunculkan tanda tanya besar: seberapa lama lagi model pertumbuhan yang mengandalkan ekspor bisa bertahan?
Eksportir China memang mulai mencari pasar baru di luar AS untuk mengakali tarif. Tapi langkah mereka justru semakin sering terbentur tembok proteksionisme baru. Banyak negara kini membangun hambatan dagang mereka sendiri demi melindungi industri dalam negeri.
Dalam pidatonya, He berusaha membela model pembangunan negaranya. Ia menegaskan bahwa kesuksesan China bertumpu pada reformasi, keterbukaan, dan inovasi bukan pada subsidi pemerintah. Klaim ini tentu bertolak belakang dengan tuduhan banyak mitra dagang, termasuk Uni Eropa, yang menuding Beijing memberi keunggulan tidak adil bagi industri seperti kendaraan listrik melalui subsidi besar-besaran.
Menghadapi tahun ini, He menyatakan prioritas China adalah memperluas permintaan domestik. Ia pun melontarkan undangan terbuka kepada perusahaan-perusahaan global untuk datang dan merebut peluang di pasar yang sangat besar itu. Undangan yang sekaligus menjadi pengingat: ekonomi dunia masih sulit lepas dari pengaruh raksasa yang satu ini.
Artikel Terkait
Roda Vivatex Cairkan Dividen Rp200 per Saham, Sentimen Dorong Harga
Listrik Gratis 6 Bulan untuk Korban Banjir di Huntara Aceh dan Sumatera
Dasco Buka Suara: Usulan Tommy Djiwandono ke BI Berasal dari Perry Warjiyo
Rupiah Tembus Rp 17.000 di Bank, Pemerintah Serahkan Stabilisasi ke BI