Di hadapan seluruh jajaran kabinetnya, Presiden Prabowo Subianto memberikan teguran yang tegas. Intinya sederhana: saat menangani bencana, jangan sampai ada yang sekadar datang untuk berfoto.
Peringatan itu ia sampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana, Senin lalu. Prabowo khawatir, kedatangan pejabat ke lokasi bencana di Sumatera bisa disalahartikan. Bisa tercipta kesan buruk, seolah-olah mereka sedang "wisata bencana".
"Jangan pejabat-pejabat, tokoh, datang ke daerah bencana, foto-foto dan untuk dianggap hadir," ujarnya tegas.
"Kita tidak mau ada budaya wisata bencana. Jangan."
Menurutnya, setiap kunjungan harus punya tujuan yang jelas: membantu. Bukan sekadar pencitraan. Rakyat yang sedang menderita butuh solusi nyata, bukan penonton yang berlagak peduli.
"Kalau datang bener bener harus ada tujuan untuk membantu mengatasi masalah. Kalau ada unsur pimpinan dateng yang punya tugas dan portofolio ke situ," katanya menegaskan.
Ia lalu memberi contoh konkret. Misalnya, jika masyarakat kesulitan air bersih, maka pejabat terkait harus langsung bergerak mencari solusi. Bukan berdiri saja, apalagi hanya mengamati.
Nuansa naratifnya jelas: aksi lebih penting dari penampilan.
"Mohon ini saya lihat ada kecenderungan wisata bencana ini tidak bagus," tambah Prabowo.
"Rakyat di situ jangan dijadikan objek, kita datang ke situ untuk bener-bener ingin mencari masalah, melihat kesulitan, dan bertindak."
Pesan penutupnya pun praktis, langsung ke pokok persoalan. Ia mendorong pendekatan yang solutif dan cepat tanggap.
"Kita lihat di sini kurang air bersih, apa tindakannya. Di situ kurang BBM, masih terisolasi, bagaimana tindakannya," tutupnya.
Artikel Terkait
PDAM Bone Antisipasi Krisis Air Bersih Akibat Musim Kemarau dan Alih Fungsi Lahan
Perekonomian Sulawesi Selatan Tumbuh 6,88 Persen di Triwulan I 2026, Ditopang Sektor Pemerintahan dan Konsumsi Publik
Dua Calon Jemaah Haji Asal Soppeng Tertunda Berangkat karena Tidak Laik Terbang
Harga Emas Antam Naik Rp17.000 per Gram, Buyback Tembus Rp2.645.000