Presiden UEA Tegaskan Negara Bukan Target Mudah di Tengah Eskalasi Konflik

- Minggu, 08 Maret 2026 | 01:50 WIB
Presiden UEA Tegaskan Negara Bukan Target Mudah di Tengah Eskalasi Konflik

Presiden Uni Emirat Arab, Mohammed bin Zayed Al Nahyan, akhirnya angkat bicara. Ini adalah komentar publik pertamanya sejak krisis di Timur Tengah memanas, menyusul serangkaian serangan yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. Menurutnya, kondisi negaranya baik-baik saja.

Seperti dilaporkan Reuters, Minggu (8/3/2026), MBZ sapaan akrabnya menegaskan negaranya bukan target yang mudah. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi konflik, setelah Iran meluncurkan rudal ke sejumlah negara Teluk, termasuk UEA.

"UEA punya kulit yang tebal dan daging yang pahit. Kami bukan mangsa yang mudah," tegasnya.

Dia berjanji, federasi tujuh emirat itu akan melindungi setiap orang di wilayahnya.

"Kami akan menjalankan kewajiban kami terhadap negara, rakyat kami, dan para penduduk yang juga bagian dari keluarga kami," ujar MBZ.

Memang, situasinya cukup mencekam. Semuanya berawal ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada akhir Februari. Sejak itu, Iran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan hujan rudal dan drone, tidak hanya ke Israel, tapi juga ke kepentingan AS di kawasan Teluk.

Akibatnya, korban berjatuhan. Di UEA sendiri, tiga orang dilaporkan tewas dan ratusan lainnya terluka dalam serangan-serangan itu. Meski begitu, Kementerian Pertahanan UEA menyatakan angkatan bersenjatanya siap siaga penuh. Mereka siap menghadapi segala ancaman.

Di sisi lain, dari Tehran muncul suara yang cukup mengejutkan. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara terbuka meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang kena imbas.

"Saya harus meminta maaf, atas nama saya sendiri dan atas nama Iran, kepada negara-negara tetangga yang diserang," katanya dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah, Sabtu (7/3).

Dia menjelaskan, dewan kepemimpinan sementara telah sepakat untuk menghentikan serangan ke negara tetangga. "Tidak akan ada rudal lagi yang ditembakkan, kecuali serangan itu berasal dari negara-negara tersebut," imbuh Pezeshkian.

Dewan itu memimpin Iran setelah pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan AS-Israel pekan lalu. Peristiwa itulah yang memicu perang terbuka di kawasan ini.

Namun begitu, permintaan maaf itu tidak berarti Iran menyerah. Justru sebaliknya. Pezeshkian dengan lantang menyatakan negaranya tak akan pernah tunduk pada Israel dan Amerika Serikat, saat perang memasuki minggu kedua.

"Musuh-musuh Iran harus kuburkan saja keinginan mereka untuk menundukkan rakyat kami tanpa syarat. Bawa saja keinginan itu ke kuburan mereka," serunya dalam pidato yang sama.

Jadi, di satu sisi ada permintaan maaf, di sisi lain tekad perang tetap membara. Situasi di Timur Tengah memang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar