Bahkan, dia memberi sinyal ke para spekulan. Dengan pondasi ekonomi yang terus diperbaiki, nilai tukar saat ini dinilai terlalu lemah dibandingkan kondisi riil. Jadi, berhati-hatilah mengambil posisi.
Soal koordinasi, dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dengan DPR, disepakati untuk memperkuat sinergi. Purbaya meyakini, kolaborasi yang solid antara pemerintah, bank sentral, OJK, dan LPS akan menggerakkan mesin ekonomi. Hasilnya? Pertumbuhan ekonomi bisa dipacu lebih cepat.
Nah, penguatan IHSG tadi bukan cuma angka. Itu sinyal penting bagi investor, baik domestik maupun luar negeri. Sinyal positif itulah yang mendorong keputusan investasi, yang ujung-ujungnya menguatkan prospek ekonomi nasional.
Lalu bagaimana dengan beban subsidi energi akibat rupiah melemah? Purbaya terlihat cukup santai. Kenaikan dolar, katanya, nggak jauh beda dari asumsi APBN. Sementara harga minyak malah lebih rendah dari perkiraan di anggaran.
"Subsidi energi? Ya kita bayar aja," katanya dengan nada ringan.
"Dolarnya naik berapa sih, enggak jauh beda dengan asumsi APBN kita, dan harga minyaknya kan di bawah asumsi APBN. Jadi subsidi ini ya gampangnya relatif terkendali selama ini."
Jadi, intinya, pemerintah melihat pelemahan rupiah ini sebagai sesuatu yang temporer. Fokus mereka tetap pada perbaikan fundamental, sambil mengawasi gejolak pasar dengan koordinasi yang lebih ketat.
Artikel Terkait
Dua Menteri Godok Strategi Dana untuk Infrastruktur dan Penanganan Bencana
POSCO International Tawar Rp4,93 Triliun untuk Kuasai Saham Prime Agri Resources
JMA Syariah Tak Perlu Khawatir, Modal Rp127 Miliar Sudah Lampaui Batas OJK
Rupiah Terseret Isu Greenland dan Tarif Trump, IMF Justra Naikkan Proyeksi RI