Namun begitu, sisi konsumsi dan investasi justru melemah. Penjualan ritel hanya naik 0,9 persen di bulan yang sama, jadi yang terlemah sejak ekonomi dibuka kembali pasca-pandemi. Lebih parah lagi, investasi aset tetap menyusut 3,8 persen sepanjang 2025 penurunan tahunan pertama dalam tiga dekade. Sektor properti pun ikut terpuruk, anjlok 17,2 persen.
Tingkat pengangguran perkotaan setidaknya stagnan di angka 5,1 persen, tak berubah dari November.
Target pertumbuhan sekitar 5 persen memang dipertahankan China selama tiga tahun berturut-turut. Tapi menurut sejumlah analis, tahun depan mungkin berbeda. Bank-bank global seperti Goldman Sachs dan Standard Chartered memperkirakan pemerintah China bakal menurunkan targetnya jadi antara 4,5 hingga 5 persen untuk tahun 2026.
Ini bukan tanpa alasan. Pemerintah kini punya pekerjaan rumah yang serius: mewujudkan ambisi menjadi negara berpendapatan menengah pada 2035. Untuk mencapainya, ekonomi harus tumbuh rata-rata 4,17 persen per tahun dalam sepuluh tahun ke depan. Bukan tugas mudah.
Kuartal pertama 2026 berpotensi jadi periode yang berat. Sebab, tahun sebelumnya tumbuh cepat karena dorongan ekspor dan subsidi konsumen. Momentum itu belum tentu bertahan.
Artikel Terkait
Saham ASPR Melonjak 30%, Siapa Dalang di Balik Emiten Kemasan Plastik Ini?
Prabowo Terbang ke Eropa, Akan Temui PM Inggris hingga Raja Charles
FSRU Lampung Mulai Sibuk, Serap 30 Kargo LNG Sepanjang 2026
Bayi Langka, Ekonomi China Terancam: Angka Kelahiran Terjun ke Titik Terendah Sejarah