Namun begitu, untuk mengakselerasi pertumbuhan TIF, Telkom tidak bisa jalan sendiri. Mereka berencana membawa mitra strategis dengan melepas sebagian kepemilikan saham. Model kerjasama Telkomsel dengan Singtel jadi acuan ideal yang mereka incar.
"Kami ingin di TIF ini mempunyai partner seperti Singtel. Partner yang bisa membantu urusan tata kelola, disiplin operasional, menentukan teknologi yang lebih baik, hingga mendapatkan akses ke pelanggan internasional," jelas Dian.
Nilai aset yang dipindahkan ke TIF tidak main-main, mencapai sekitar Rp80 hingga Rp90 triliun. Angka fantastis itu membuat Telkom membuka peluang pelepasan saham hingga 30 persen untuk investor. Tapi, Dian menegaskan satu hal.
Telkom akan tetap memegang kendali mayoritas. Posisi infrastruktur fiber optic ini dianggap terlalu krusial untuk dilepas sepenuhnya. Ini adalah tulang punggung ekosistem digital mereka.
"Kalau kita mau lepas 30 persen, nilainya sudah lumayan besar. Mungkin perlu investor dari luar yang bisa berpartisipasi," tambahnya.
Dengan segala persiapan ini, optimisme Telkom tinggi. Mereka yakin InfraNexia bukan hanya akan memperkuat cengkeraman di sektor infrastruktur digital, tapi juga pada akhirnya memberikan imbal hasil yang lebih manis bagi para pemegang saham di masa depan.
Artikel Terkait
Rp 20 Triliun Disuntikkan, Kementan Bidik Dominasi Dua Raksasa Unggas
LRT Jakarta Fase 1B Tembus 83%, Sambungan Kritis di Atas Tol Ir Wiyoto Rampung
Negara-Negara Industri Galang Strategi Lepas dari Cengkeraman China atas Logam Tanah Jarang
PTPP Siap Lepas Saham Treasuri, Bidik Kontrak Rp23,5 Triliun di 2026