PT Telkom punya rencana besar. Mereka sedang menyiapkan "mesin uang" baru, sebuah upaya untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kontribusi raksasa Telkomsel. Langkah konkretnya? Membentuk unit bisnis infrastruktur digital bernama FiberCo, yang kini sudah beroperasi dengan brand InfraNexia di bawah PT Telkom Infrastructure Future (TIF).
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, tak menyembunyikan ambisi ini. Dalam sebuah wawancara, ia menjelaskan inti dari transformasi yang mereka sebut Telkom 30.
"Salah satu pilarnya adalah bagaimana membuat Telkomsel-Telkomsel kedua, ketiga, dan keempat. Kami tidak mau kontributor besar cuma satu. Kami ingin membangun pilar-pilar lain yang kontribusinya juga signifikan bagi grup," ujar Dian.
Menurutnya, strategi ini punya dua tujuan utama. Pertama, tentu soal uang. Tapi yang kedua, dan mungkin lebih krusial, adalah soal valuasi.
Dian menjelaskan, aset serat optik yang selama ini berada di dalam induk perusahaan cenderung dihargai murah oleh pasar. Valuasinya disamakan dengan bisnis mobile, dengan kelipatan EBITDA hanya sekitar lima atau enam kali. Nah, di sinilah triknya.
"Kalau aset itu dipisahkan di dalam FiberCo, EBITDA multiple-nya bisa melonjak antara sembilan sampai dua belas kali. Jauh lebih besar," katanya.
Jadi, pemisahan atau spin-off ini intinya untuk "membuka kunci" nilai aset yang selama ini terpendam. Selain itu, InfraNexia diharapkan bisa bergerak lebih lincah. Dulu, aset fiber optic Telkom mayoritas dipakai untuk kebutuhan internal, terutama Telkomsel. Kini, jaringannya akan dibuka lebar untuk melayani operator lain, perusahaan cloud besar (hyperscalers), swasta, hingga pemerintah.
Namun begitu, untuk mengakselerasi pertumbuhan TIF, Telkom tidak bisa jalan sendiri. Mereka berencana membawa mitra strategis dengan melepas sebagian kepemilikan saham. Model kerjasama Telkomsel dengan Singtel jadi acuan ideal yang mereka incar.
"Kami ingin di TIF ini mempunyai partner seperti Singtel. Partner yang bisa membantu urusan tata kelola, disiplin operasional, menentukan teknologi yang lebih baik, hingga mendapatkan akses ke pelanggan internasional," jelas Dian.
Nilai aset yang dipindahkan ke TIF tidak main-main, mencapai sekitar Rp80 hingga Rp90 triliun. Angka fantastis itu membuat Telkom membuka peluang pelepasan saham hingga 30 persen untuk investor. Tapi, Dian menegaskan satu hal.
Telkom akan tetap memegang kendali mayoritas. Posisi infrastruktur fiber optic ini dianggap terlalu krusial untuk dilepas sepenuhnya. Ini adalah tulang punggung ekosistem digital mereka.
"Kalau kita mau lepas 30 persen, nilainya sudah lumayan besar. Mungkin perlu investor dari luar yang bisa berpartisipasi," tambahnya.
Dengan segala persiapan ini, optimisme Telkom tinggi. Mereka yakin InfraNexia bukan hanya akan memperkuat cengkeraman di sektor infrastruktur digital, tapi juga pada akhirnya memberikan imbal hasil yang lebih manis bagi para pemegang saham di masa depan.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Sistem Tol Tanpa Palang Masih Tahap Uji Fungsi Dasar
Pabrik Baru PT Mulia Boga Raya (KEJU) Ditargetkan Beroperasi Juli 2026
Laba Bersih DADA Melonjak Tiga Kali Lipat Meski Arus Kas Operasi Negatif
WMUU Bakal Rights Issue Rp600 Miliar, Harga Penawaran Lebih Tinggi dari Pasar