Tekanan serupa juga menghantui pasar LNG. Bernstein memprediksi harga patokan JKM akan anjlok ke rata-rata USD9 per mmbtu tahun depan, turun jauh dari level USD12,6 di 2025. Gelombang pasokan baru dari berbagai proyek menjadi penyebabnya.
Menariknya, kondisi harga yang tertekan ini punya efek ganda. Di satu sisi, jelas merugikan produsen. Tapi di sisi lain, harga yang bertahan di bawah biaya marginal biasanya justru memangkas insentif untuk investasi baru. Alhasil, kapasitas cadangan yang sekarang sekitar 3,5% sudah mendekati rata-rata historis bisa membantu pemulihan harga di masa depan. Industri secara keseluruhan juga terlihat masih enggan berinvestasi besar-besaran.
Menyikapi panorama ini, Bernstein melakukan sejumlah perubahan rekomendasi saham. Mereka meningkatkan peringkat untuk Santos Ltd dan PetroChina Co Ltd. Alasannya, arus kas bebas kedua emiten ini dinilai masih kuat bahkan di level harga USD65.
"Sementara itu, kami menurunkan peringkat untuk Inpex dan Sinopec," tulis analis Bernstein.
Kekhawatiran mereka terhadap kedua saham itu terutama soal valuasi yang dinilai sudah terlalu mahal, terutama saat siklus ekonomi mulai berbalik arah.
Jadi, intinya, pasar minyak masih harus melalui masa sulit setahun ke depan. Tapi setelahnya, perlahan-lahan, kondisi diharapkan mulai membaik.
Artikel Terkait
IHSG Diproyeksi Menguat, Sentimen Positif dari Dalam dan Luar Negeri
Wall Street Berakhir Pekan dengan Catatan Hijau, Saham Semikonduktor Jadi Penggerak
IHSG Terganjal di 8.970, Analis Soroti Peluang di Sektor Tambang
Greenland dan Tamagotchi: Ambisi Strategis Trump dan Kebangkitan Mainan Nostalgia