Melihat kondisi itu, Metals Focus memproyeksikan harga emas berpeluang menembus rekor baru di atas USD 5.000 pada 2026. Tren dedolarisasi dan risiko geopolitik disebut sebagai pendorong utamanya.
Di sisi lain, permintaan fisik tampak beragam. Di India, pembelian emas ritel masih lesu karena harganya yang terlampau tinggi. Sementara di China, premi emas justru melebar, menandakan permintaan yang cukup kuat di sana.
Sementara itu, ketidakpastian lain datang dari kebijakan perdagangan AS. Mahkamah Agung AS diperkirakan tidak akan mengeluarkan putusan pada Jumat lalu terkait tarif global era Trump. Keputusan penting itu kini ditunggu pada 14 Januari mendatang.
Perak juga ikut meroket, melonjak 3,5 persen ke USD 79,56 per ons. Kenaikan mingguannya bahkan mencapai 9,7 persen, lebih tajam dari emas.
Logam lain seperti platinum dan paladium tak ketinggalan. Platinum naik 0,8 persen ke USD 2.284,50, sementara paladium menguat 1,6 persen ke USD 1.814,93 per ons. Keduanya juga diprediksi mencatat kenaikan mingguan.
Bank of America bahkan telah menaikkan proyeksi harga rata-rata untuk platinum dan paladium di tahun 2026. Alasannya, pasar fisik yang ketat dan dislokasi akibat sengketa perdagangan, ditambah lagi dengan dukungan dari impor China yang tetap solid.
Artikel Terkait
OCBC NISP Bagikan Dividen Rp1,03 Triliun, Nilai per Saham Turun 58%
Avian Brands Bagikan Dividen Final Rp709 Miliar, Total 2026 Capai Rp1,36 Triliun
Analis Soroti Anomali: Kinerja BCA Gemilang, Harga Saham Justru Anjlok
ARNA Bagikan Dividen Rp330 Miliar, Setara Rp45 per Saham untuk Tahun Buku 2025