Harga Minyak Diprediksi Tertekan hingga 2026, Baru Pulih Setelahnya

- Minggu, 11 Januari 2026 | 23:15 WIB
Harga Minyak Diprediksi Tertekan hingga 2026, Baru Pulih Setelahnya

Harga minyak dunia tampaknya masih akan melanjutkan tren penurunannya hingga tahun 2026. Begitulah prediksi terbaru dari para analis. Meski begitu, penurunan ini mungkin tak sedalam yang selama ini ditakutkan pasar. Pemicu utamanya sederhana: pasokan bakal kembali membanjiri permintaan yang tumbuhnya lebih lambat.

Menurut tim riset Bernstein, harga rata-rata minyak mentah Brent diproyeksikan menyentuh level USD65 per barel di tahun 2026. Angka ini memang turun dari perkiraan tahun 2025 yang sekitar USD69, namun tetap lebih optimis ketimbang konsensus pasar yang cuma USD61. Mereka melihat tahun depan sebagai titik nadir siklus komoditas ini.

Namun begitu, ada secercah harapan di ujung terowongan. Harga diperkirakan bakal merangkak naik lagi menuju USD70 per barel pada 2027, mendekati level biaya produksi marginal.

Lantas, apa yang terjadi di sepanjang 2026? Tekanan terberat diprediksi datang di paruh pertama tahun. Pertumbuhan permintaan global cuma sekitar 0,8 juta barel per hari. Sementara itu, pasokan dari negara-negara non-OPEC justru melesat 1,2 juta barel per hari. Belum lagi, OPEC sendiri diperkirakan menambah pasokan sekitar setengah juta barel per hari. Kombinasi ini jelas bikin pasar keteteran.

Memang, China mungkin akan membeli lebih banyak untuk mengisi cadangan strategisnya. Tapi langkah itu tampaknya tak cukup ampuh untuk menyerap semua kelebihan stok yang membludak. Akibatnya, penumpukan persediaan dan tekanan pada harga hampir tak terhindarkan.

Di sisi lain, situasi politik di Venezuela jadi variabel liar yang perlu diawasi. Kalau transisi kekuasaan berjalan mulus, produksi mereka bisa melonjak drastis hingga 3 juta barel per hari dalam sepuluh tahun ke depan tentu saja ini berita buruk untuk harga. Sebaliknya, transisi yang berantakan justru bisa mengganggu ekspor eksisting mereka dan membuat pasar sedikit lebih ketat.

Tekanan serupa juga menghantui pasar LNG. Bernstein memprediksi harga patokan JKM akan anjlok ke rata-rata USD9 per mmbtu tahun depan, turun jauh dari level USD12,6 di 2025. Gelombang pasokan baru dari berbagai proyek menjadi penyebabnya.

Menariknya, kondisi harga yang tertekan ini punya efek ganda. Di satu sisi, jelas merugikan produsen. Tapi di sisi lain, harga yang bertahan di bawah biaya marginal biasanya justru memangkas insentif untuk investasi baru. Alhasil, kapasitas cadangan yang sekarang sekitar 3,5% sudah mendekati rata-rata historis bisa membantu pemulihan harga di masa depan. Industri secara keseluruhan juga terlihat masih enggan berinvestasi besar-besaran.

Menyikapi panorama ini, Bernstein melakukan sejumlah perubahan rekomendasi saham. Mereka meningkatkan peringkat untuk Santos Ltd dan PetroChina Co Ltd. Alasannya, arus kas bebas kedua emiten ini dinilai masih kuat bahkan di level harga USD65.

"Sementara itu, kami menurunkan peringkat untuk Inpex dan Sinopec," tulis analis Bernstein.

Kekhawatiran mereka terhadap kedua saham itu terutama soal valuasi yang dinilai sudah terlalu mahal, terutama saat siklus ekonomi mulai berbalik arah.

Jadi, intinya, pasar minyak masih harus melalui masa sulit setahun ke depan. Tapi setelahnya, perlahan-lahan, kondisi diharapkan mulai membaik.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar