Suasana di Rawa Bunga, Jatinegara, sempat ricuh. Seorang balita tiga tahun terjatuh dari balkon lantai dua rumahnya. Yang bikin pilu, saat kejadian, anak itu hanya bersama kakak sulungnya yang baru berusia tujuh tahun dan satu adik lainnya yang juga masih balita. Ibunya tak ada di tempat.
Kanit PPA Satreskrim Polres Metro Jakarta Timur, Kompol Sri Yatmini, angkat bicara. Menurutnya, fakta seorang anak tujuh tahun diserahi tanggung jawab mengasuh dua adik balita sudah mengkhawatirkan. "Anak balita yang tujuh tahun ini mengasuh kedua adiknya saja, itu orang tuanya sudah melakukan eksploitasi," tegas Sri, Rabu (7/1/2026).
Ucapannya bernada prihatin sekaligus tegas.
Namun begitu, polisi masih mendalami dugaan yang lebih serius: penelantaran anak. Mereka menyelidiki peran sang ibu yang pergi bekerja dan diduga kerap meninggalkan ketiga anaknya sendirian. "Ini masih dalam pendalaman kami," lanjut Sri.
Ia juga menegaskan bahwa kelalaian dalam pendidikan saja sudah bisa dianggap pelanggaran. "Tentunya saya sudah edukasi bahwa tidak menyekolahkan saja, anak tidak disekolahkan saja, itu sudah masuk perlakuan salah atau penelantaran," imbuhnya.
Dari penyelidikan sementara, ibu anak-anak itu bekerja di wilayah Makassar, Jakarta Timur. Bukan cuma sekali dua kali, meninggalkan anak tampaknya jadi kebiasaan. "Bukan karena mengejar sesuatu, tapi memang ibunya bekerja. Dan itu sering, memang sering," ujar Sri.
Kondisi ini rupanya sudah jadi rahasia umum di antara tetangga. Mereka tahu persis dan merasa iba melihat anak-anak itu kerap dibiarkan tak terurus.
"Tetangga itu peduli, sangat peduli. Makanya tetangga itu sudah hafal dengan kejadian itu," cerita Sri sambil menggambarkan kondisi fisik anak-anak tersebut. "Memang cukup kurus-kurus anaknya, tidak terurus. Sampai saya gendong, luar biasa. Anak segitu mandi, makan saja mungkin belum bisa."
Rasa iba itu lalu diwujudkan dalam aksi nyata. Warga sekitar kerap memberikan bantuan makanan, meski akses ke rumah mereka terbilang sulit.
"Jadi tetangganya itu yang peduli suka melemparkan makanan. Di sana aksesnya hanya lorong untuk jalan kaki, tidak bisa motor. Mereka bergandengan dengan tetangga, suka minta makanan dari sana-sini," katanya melukiskan situasi yang memilukan.
Peristiwa jatuhnya balita itu sendiri berakhir dengan pertolongan warga yang sigap. Mereka panik, tapi langsung bergerak cepat memberi pertolongan pertama sebelum si kecil dilarikan ke rumah sakit.
Syukurlah, nyawanya selamat. Meski begitu, korban mengalami luka di bagian dagu dan harus mendapatkan perawatan medis. Insiden ini, di balik keselamatannya, menyisakan tanda tanya besar tentang tanggung jawab pengasuhan yang seharusnya tak boleh diabaikan.
Artikel Terkait
Menteri Keuangan Israel Ultimatum Hamas: Serahkan Senjata atau Hadapi Pendudukan Gaza
Menlu RI Tegaskan Komitmen HAM dan Soroti Isu Palestina di Dewan HAM PBB
Ramadhan di Tenda Bencana: Solidaritas yang Tetap Hidup di Tengah Runtuhnya Rumah
Iran dan Rusia Sepakati Kesepakatan Senjata Rahasia Senilai Setengah Miliar Euro