Dominasi konsumtif ini sebenarnya wajar. Menurut sejumlah analis, pola ini sejalan dengan kebiasaan masyarakat kita yang meningkat belanjanya jelang hari raya. Dana tambahan sering dialokasikan untuk kebutuhan rumah tangga, baju baru, atau makanan untuk santapan bersama keluarga.
Lalu, dari mana sumber uangnya? Ternyata, perbankan masih jadi penyokong utama. Kontribusinya mencapai Rp 60,79 triliun atau 64% dari total pendanaan pinjol per November lalu. Pendanaan dari individu sebagai lender relatif kecil, cuma sekitar Rp 5,18 triliun.
Meski begitu, OJK punya harapan untuk tahun depan. Mereka optimis struktur pendanaan industri pinjol akan lebih sehat dan berimbang di 2026. Penguatan regulasi lewat SEOJK 19/2025 dianggap sebagai langkah kunci.
Agusman menjelaskan, aturan baru ini membedakan lender profesional dan non-profesional. "Sehingga diharapkan dapat memperkuat pelindungan konsumen," imbuhnya.
Jadi, prospek ke depan diharapkan tetap terjaga. Yang penting, pertumbuhannya tak hanya dinikmati, tapi juga dikelola dengan lebih baik agar risiko bisa ditekan. Semoga saja.
Artikel Terkait
YULE Bagikan Dividen Rp15,8 Miliar, Cair 13 Mei 2026
Transaksi SPPA BEI Melonjak 461% Didorong Fitur Repo
Rupiah Melemah Tipis di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Data Inflasi AS
MCOL Dirikan Anak Usaha Rp18,75 Miliar untuk Garap Bisnis Data dan TI