Kemarahan Warga Minneapolis Meledak, Aksi Massa Serentak Guncang AS Usai Penembakan oleh ICE

- Minggu, 11 Januari 2026 | 10:55 WIB
Kemarahan Warga Minneapolis Meledak, Aksi Massa Serentak Guncang AS Usai Penembakan oleh ICE

MINNEAPOLIS Cuaca di Minneapolis Sabtu lalu (10/1/2026) memang menusuk tulang. Tapi dinginnya tak menyurutkan langkah puluhan ribu orang yang membanjiri jalanan. Mereka datang untuk Renee Good. Perempuan 37 tahun itu tewas ditembak petugas Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) tiga hari sebelumnya. Suasana hari itu tebal dengan kemarahan dan duka. Aksi ini cuma satu dari lebih seribu unjuk rasa yang digelar serentak di seluruh AS akhir pekan itu, menentang keras operasi deportasi pemerintah federal.

Kerumunan yang menurut polisi setempat mencapai puluhan ribu orang itu bergerak riuh. Teriakan "Hapus ICE!" dan "Tidak ada keadilan, tidak ada perdamaian singkirkan ICE dari jalanan kita!" terus menggema. Mereka berbaris, dipimpin kelompok penari tradisional Meksiko, menuju lokasi di mana Good ditembak di dalam mobilnya. Di sebuah kawasan perumahan, mereka berhenti, meneriakkan nama korban. Rasanya, seluruh kota metropolitan berpenduduk 3,8 juta jiwa ini ikut berduka.

Menurut sejumlah saksi dan video warga, mobil Good sedang berbelok menjauh dari sang agen saat tembakan dilepaskan. Para pejabat Minnesota dengan tegas menyebut penembakan ini tak bisa dibenarkan. Namun, narasi dari Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) yang membawahi ICE, berbeda sama sekali. Mereka bersikukuh agennya bertindak membela diri karena Good mengemudikan mobilnya ke arah petugas. Good diketahui aktif sebagai sukarelawan jaringan komunitas yang memantau operasi ICE di Minneapolis.

Insiden mematikan ini bukan terjadi dalam ruang hampa. Latar belakangnya panas. Baru sehari sebelumnya, sekitar 2.000 petugas federal dikerahkan ke wilayah Minneapolis-St. Paul. DHS menyebutnya operasi terbesar yang pernah ada. Langkah ini jelas memperlebar retakan antara pemerintah federal dan para pemimpin Demokrat di negara bagian tersebut.

Ketegangan makin menjadi. Di Portland, Oregon, sehari setelah penembakan Good, seorang agen Patroli Perbatasan menembak dan melukai dua orang di dalam mobil. DHS lagi-lagi menggunakan bahasa serupa, menyebut pengemudi mencoba "mempersenjatai" kendaraannya dan menabrak petugas. Dua insiden beruntun inilah yang memicu gerakan nasional.

Koalisi kelompok progresif dan hak sipil, termasuk Indivisible dan ACLU, langsung bergerak. Mereka merancang aksi "ICE Out For Good" di lebih dari seribu lokasi. Di Philadelphia, teriakan "ICE harus pergi!" menggema dari Balai Kota menuju fasilitas penahanan federal. Sementara di Manhattan, ratusan orang berjalan membawa poster anti-ICE melewati pengadilan imigrasi. Semua aksi sengaja dijadwalkan berakhir sebelum gelap, untuk meminimalkan risiko kerusuhan.

Sebenarnya, Minnesota sudah lama jadi titik panas. Beberapa bulan sebelum tragedi Good, pemerintahan federal memang gencar menggalakkan deportasi. Presiden Trump bahkan kerap menyasar para pemimpin Demokrat di sana, menyoroti skandal penipuan kesejahteraan yang melibatkan sebagian anggota komunitas Somalia-Amerika yang besar.

Kembali ke Minneapolis, Wali Kota Jacob Frey berusaha menenangkan situasi. Dalam konferensi pers Sabtu pagi, Demokrat yang kerap mengkritik ICE ini menyebut aksi masih berjalan damai. Tapi dia juga mengingatkan, siapa pun yang merusak akan ditangkap.

"Kita tidak akan melawan kekacauan Donald Trump dengan kekacauan versi kita sendiri," tegas Frey. "Dia ingin kita terpancing."

Peringatannya bukan tanpa alasan. Malam sebelumnya, Jumat (9/1), suasana sempat memanas. Lebih dari 200 aparat dikerahkan setelah aksi berujung kerusakan. Beberapa jendela Hotel Depot Renaissance dirusak, menimbulkan kerugian sekitar $6.000. Sementara itu, upaya sejumlah demonstran memasuki Hotel Hilton Canopy yang diduga menjadi tempat tinggal agen ICE berakhir dengan 29 orang ditangkap. Menurut Kepala Polisi Brian O’Hara, aksi yang awalnya cuma "protes kebisingan" itu membesar setelah kerumunan mencapai lebih dari seribu orang.

Di sisi lain, tiga anggota Kongres Demokrat Minnesota Angie Craig, Kelly Morrison, dan Ilhan Omar mendapati pintu tertutup saat hendak mengunjungi markas regional ICE dekat Minneapolis pada Sabtu pagi. Mereka ditolak masuk. Langkah ini langsung mereka kecam.

"Kami telah menjelaskan kepada ICE dan DHS bahwa mereka melanggar hukum federal," ujar Angie Craig di depan Gedung Federal Whipple, St. Paul.

Memang, aturan federal melarang DHS menghalangi anggota Kongres memasuki lokasi penahanan ICE. Tapi belakangan, DHS kerap membatasi kunjungan semacam ini, terutama dari anggota parlemen Partai Demokrat.

"Adalah tugas kita sebagai anggota Kongres untuk memastikan mereka yang ditahan diperlakukan secara manusiawi, karena kita adalah Amerika Serikat," tambah Craig.

Menanggapi penolakan itu, juru bicara DHS Tricia McLaughlin punya alasan sendiri. Dia menyebut larangan masuk itu untuk menjamin "keselamatan para tahanan dan staf." McLaughlin juga menegaskan, kebijakan DHS mewajibkan pemberitahuan tujuh hari sebelumnya untuk kunjungan ke fasilitas mereka. Rupanya, ketegangan antara cabang eksekutif dan legislatif ini juga ikut memanas, beriringan dengan aksi massa di jalanan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar