MINNEAPOLIS Cuaca di Minneapolis Sabtu lalu (10/1/2026) memang menusuk tulang. Tapi dinginnya tak menyurutkan langkah puluhan ribu orang yang membanjiri jalanan. Mereka datang untuk Renee Good. Perempuan 37 tahun itu tewas ditembak petugas Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) tiga hari sebelumnya. Suasana hari itu tebal dengan kemarahan dan duka. Aksi ini cuma satu dari lebih seribu unjuk rasa yang digelar serentak di seluruh AS akhir pekan itu, menentang keras operasi deportasi pemerintah federal.
Kerumunan yang menurut polisi setempat mencapai puluhan ribu orang itu bergerak riuh. Teriakan "Hapus ICE!" dan "Tidak ada keadilan, tidak ada perdamaian singkirkan ICE dari jalanan kita!" terus menggema. Mereka berbaris, dipimpin kelompok penari tradisional Meksiko, menuju lokasi di mana Good ditembak di dalam mobilnya. Di sebuah kawasan perumahan, mereka berhenti, meneriakkan nama korban. Rasanya, seluruh kota metropolitan berpenduduk 3,8 juta jiwa ini ikut berduka.
Menurut sejumlah saksi dan video warga, mobil Good sedang berbelok menjauh dari sang agen saat tembakan dilepaskan. Para pejabat Minnesota dengan tegas menyebut penembakan ini tak bisa dibenarkan. Namun, narasi dari Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) yang membawahi ICE, berbeda sama sekali. Mereka bersikukuh agennya bertindak membela diri karena Good mengemudikan mobilnya ke arah petugas. Good diketahui aktif sebagai sukarelawan jaringan komunitas yang memantau operasi ICE di Minneapolis.
Insiden mematikan ini bukan terjadi dalam ruang hampa. Latar belakangnya panas. Baru sehari sebelumnya, sekitar 2.000 petugas federal dikerahkan ke wilayah Minneapolis-St. Paul. DHS menyebutnya operasi terbesar yang pernah ada. Langkah ini jelas memperlebar retakan antara pemerintah federal dan para pemimpin Demokrat di negara bagian tersebut.
Ketegangan makin menjadi. Di Portland, Oregon, sehari setelah penembakan Good, seorang agen Patroli Perbatasan menembak dan melukai dua orang di dalam mobil. DHS lagi-lagi menggunakan bahasa serupa, menyebut pengemudi mencoba "mempersenjatai" kendaraannya dan menabrak petugas. Dua insiden beruntun inilah yang memicu gerakan nasional.
Koalisi kelompok progresif dan hak sipil, termasuk Indivisible dan ACLU, langsung bergerak. Mereka merancang aksi "ICE Out For Good" di lebih dari seribu lokasi. Di Philadelphia, teriakan "ICE harus pergi!" menggema dari Balai Kota menuju fasilitas penahanan federal. Sementara di Manhattan, ratusan orang berjalan membawa poster anti-ICE melewati pengadilan imigrasi. Semua aksi sengaja dijadwalkan berakhir sebelum gelap, untuk meminimalkan risiko kerusuhan.
Artikel Terkait
Prabowo Ingin Petugas Haji Semua dari TNI-Polri, Kenyataannya Tak Sesederhana Itu
Aroma: Pemberontak Diam yang Menggoyang Kedaulatan Akal
Keluarga Gugat JetBlue Usai Penumpang Stroke Tak Tertolong di Pesawat
FCC Beri Izin, Armada Satelit Starlink Elon Musk Bakal Tembus 15.000 Unit