Di penghujung tahun 2025, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) ternyata tak main-main soal eksplorasi. Perusahaan tambang ini tercatat menggelontorkan dana yang tak sedikit, mencapai 3,20 juta dolar AS atau sekitar Rp53,76 miliar, hanya dalam tiga bulan terakhir tahun itu. Angka itu setara dengan kurs Rp16.800 per dolarnya.
Uang sebesar itu dialirkan melalui lima anak perusahaannya yang tersebar di berbagai lokasi. Kelima anak usaha itu adalah PT Citra Palu Minerals, PT Dairi Prima Mineral, PT Gorontalo Minerals, PT Linge Mineral Resources, dan PT Suma Heksa Sinergi. Masing-masing punya fokus dan perkembangan yang berbeda-beda.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis ke BEI pada Senin, 12 Januari 2026, rincian pengeluarannya mulai terlihat. PT Citra Palu Minerals, misalnya, menghabiskan USD747 ribu lebih. Dana itu dipakai untuk menggarap empat blok eksplorasi emas dan satu blok operasi produksi di wilayah Sulawesi Tengah dan Selatan.
Di lokasi itu, kegiatan pengeboran di Prospek River Reef-Watuputih, Blok I Poboya, terus berlanjut. Hingga akhir Desember 2025, total kedalaman bor yang sudah dicapai fantastis: 89.582,40 meter. Pekerjaan itu menghasilkan 356 titik bor yang selesai, termasuk bor untuk keperluan hidrogeologi dan geoteknik.
Lalu, bagaimana dengan anak usaha lainnya?
PT Dairi Prima Mineral mencatatkan biaya operasi produksi sebesar USD21.275,86. Namun begitu, periode Oktober-Desember 2025 ternyata sepi dari aktivitas eksplorasi. Alasannya sederhana: eksplorasi di Prospek Anjing Hitam sudah rampung dan kini area itu masuk tahap produksi.
Meski begitu, wilayah Kontrak Karya DPM masih menyimpan potensi lain. Masih ada beberapa prospek dengan tahapan beragam, mulai dari eksplorasi regional hingga pengeboran delineasi. Salah satu yang paling menonjol adalah Prospek Lae Jehe.
Prospek Lae Jehe letaknya cuma sekitar 200 meter di baratlaut Anjing Hitam. Saat ini, tahapannya sudah maju ke pengeboran delineasi sumber daya. Tujuannya jelas: mendapatkan klasifikasi sumber daya mineral terukur dan tertunjuk yang lebih banyak.
Di sisi lain, PT Gorontalo Minerals justru mengeluarkan dana yang paling besar. Nilainya mencapai USD1,8 juta lebih untuk operasi produksi emas dan tembaga di beberapa kompleks, seperti Tombulilato, Motomboto, dan Sungai Mak.
Aktivitasnya cukup padat. Perusahaan masih melakukan pengeboran eksplorasi di Prospek Cabang Kiri East, dengan kedalaman terkini 15.730,4 meter. Mereka juga melanjutkan pemetaan geologi dan pengambilan sampel tanah di area Gunung Lintah dan Mono.
Sementara itu, dua anak usaha terakhir juga tak ketinggalan. PT Linge Mineral Resources mengeluarkan sekitar USD338 ribu untuk eksplorasi tambang emas di Prospek Bulan dan Bintang (Proyek Abong), serta eksplorasi regional.
Terakhir, PT Suma Heksa Sinergi menghabiskan USD277 ribu untuk operasi produksi pertambangan emas dan perak di sejumlah prospek, seperti Pasir Karang dan Regional West Pasir Awi.
Begitulah lanskap kegiatan BRMS di kuartal terakhir 2025. Dari Sulawesi hingga Sumatera, aktivitas menggali potensi bumi terus berjalan, dengan dana miliaran rupiah sebagai bahan bakarnya.
Artikel Terkait
Pabrik Amonia Banggai Kembali Beroperasi Penuh Usai Pemeliharaan Terjadwal
BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,50 Persen dan Beri Insentif Baru untuk Tarik Arus Modal Asing
SOFA Akuisisi 10 Persen Saham Perusahaan Pengelola Sampah Energi Milik Zhejiang Weiming
Jababeka Bagikan Dividen Rp42,31 Miliar, Setara Rp2 per Saham