Prospek Lae Jehe letaknya cuma sekitar 200 meter di baratlaut Anjing Hitam. Saat ini, tahapannya sudah maju ke pengeboran delineasi sumber daya. Tujuannya jelas: mendapatkan klasifikasi sumber daya mineral terukur dan tertunjuk yang lebih banyak.
Di sisi lain, PT Gorontalo Minerals justru mengeluarkan dana yang paling besar. Nilainya mencapai USD1,8 juta lebih untuk operasi produksi emas dan tembaga di beberapa kompleks, seperti Tombulilato, Motomboto, dan Sungai Mak.
Aktivitasnya cukup padat. Perusahaan masih melakukan pengeboran eksplorasi di Prospek Cabang Kiri East, dengan kedalaman terkini 15.730,4 meter. Mereka juga melanjutkan pemetaan geologi dan pengambilan sampel tanah di area Gunung Lintah dan Mono.
Sementara itu, dua anak usaha terakhir juga tak ketinggalan. PT Linge Mineral Resources mengeluarkan sekitar USD338 ribu untuk eksplorasi tambang emas di Prospek Bulan dan Bintang (Proyek Abong), serta eksplorasi regional.
Terakhir, PT Suma Heksa Sinergi menghabiskan USD277 ribu untuk operasi produksi pertambangan emas dan perak di sejumlah prospek, seperti Pasir Karang dan Regional West Pasir Awi.
Begitulah lanskap kegiatan BRMS di kuartal terakhir 2025. Dari Sulawesi hingga Sumatera, aktivitas menggali potensi bumi terus berjalan, dengan dana miliaran rupiah sebagai bahan bakarnya.
Artikel Terkait
EMAS Kirim Perdana Dore Emas ke Antam, Sinyal Kesiapan Produksi Komersial
Angka Kecelakaan Kerja Indonesia Capai 300.000 Kasus pada 2024
Pembangunan Pabrik Baru SCNP di Bogor Capai 70 Persen
IHSG Anjlok 1,44%, Saham MSKY dan JAYA Melonjak di Atas 34%