Rupiah ditutup sedikit melemah pada perdagangan Senin (13/4), tepat di level Rp17.105 per dolar AS. Pelemahannya memang tipis, cuma satu poin dari posisi penutupan pekan lalu di Rp17.104. Tapi, pergerakannya ini cukup menarik perhatian, mengingat sentimen dari luar negeri yang lagi panas.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, tekanan utama datang dari blokade yang diumumkan Amerika Serikat. Ini menyusul gagalnya perundingan damai AS-Iran di akhir pekan.
"Presiden Donald Trump mengatakan pada hari Minggu bahwa Angkatan Laut AS akan mulai memblokade Selat Hormuz," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Dia menambahkan, langkah ini meningkatkan tensi setelah perundingan maraton gagal mencapai kata sepakat. Gencatan senjata dua minggu yang sudah rapuh pun jadi taruhannya.
Komando Pusat AS sendiri sudah menyatakan blokade akan mulai berlaku Senin siang waktu setempat. Kebijakan ini akan diterapkan secara imparsial untuk semua kapal yang masuk atau keluar pelabuhan Iran, mencakup wilayah Teluk Arab dan Teluk Oman. Namun begitu, kapal yang hanya melintasi Selat Hormuz menuju pelabuhan lain tidak akan dihalangi. Informasi lebih detail akan disampaikan ke para pelaut nanti.
Di sisi lain, respons Iran tidak kalah keras. Garda Revolusi Iran pada Minggu menyatakan, setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata. Dan ancaman itu akan ditanggapi dengan "tindakan tegas".
Selain ketegangan geopolitik ini, data inflasi AS yang dirilis Jumat lalu juga memberi tekanan. Angkanya melonjak, didorong kenaikan harga energi dari konflik Iran. Hal ini semakin mengukuhkan ekspektasi bahwa The Fed akan menahan diri untuk memotong suku bunga dalam waktu dekat. Pasar kini menunggu data indeks harga produsen Maret yang dirilis Selasa ini.
Nah, dari dalam negeri sendiri, ada kabar yang cukup positif. Bank Pembangunan Asia (ADB) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen di 2026. Angka ini lebih tinggi dari realisasi tahun lalu, meski sedikit di bawah target pemerintah. Proyeksi inflasi pun masih dalam koridor yang ditetapkan Bank Indonesia.
Tapi, ADB juga memberi catatan. Mereka mewanti-wanti sejumlah risiko yang bisa mengganggu. Ketegangan geopolitik global dan fluktuasi harga energi komoditas tetap jadi ancaman serius bagi stabilitas. Belum lagi kebijakan moneter ketat AS yang berlangsung lebih lama istilah kerennya 'higher for longer' yang berpotensi bikin aliran modal di negara berkembang, termasuk Indonesia, jadi makin bergejolak.
Oleh karena itu, ADB menyarankan pemerintah untuk tidak lengah. Percepatan reformasi struktural dinilai krusial untuk mendongkrak produktivitas dan daya saing. Soal fiskal, optimalisasi penerimaan dan efisiensi belanja negara harus jadi prioritas agar punya ruang gerak jika terjadi guncangan.
Satu hal lagi: lapangan kerja. Pertumbuhan kerja formal di sektor manufaktur sangat penting untuk transformasi yang inklusif. Sektor pertanian, meski menyerap banyak tenaga, masih berkutat pada produktivitas rendah dan informalitas yang tinggi.
Melihat semua faktor ini, Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah ke depan masih akan fluktuatif. Potensi pelemahan masih terbuka, dengan kisaran yang dia prediksi berada di antara Rp17.100 hingga Rp17.150 per dolar AS.
Artikel Terkait
Tagar SjafrieSAfiekalla Trending, Dukungan untuk Afi Kalla di Pilketum Hipmi Menguat
IHSG Anjlok 11,92% Sepanjang Mei, Saham-Saham Ini Justru Melesat di Tengah Koreksi
Pemprov DKI Beri Diskon PBB 7,5 Persen dan Hapus Sanksi Tunggakan, Berlaku Juni 2026
Bursa Asia Menguat, Nikkei dan KOSPI Cetak Rekor Baru Didorong Sektor Teknologi