Menjelang Ramadan 2026, industri pinjaman online diprediksi bakal ramai lagi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat pola ini: setiap tahun, saat bulan puasa tiba, permintaan dana dari masyarakat cenderung melonjak. Kebutuhan konsumsi, terutama untuk persiapan lebaran, jadi pendorong utamanya.
Agusman, selaku Kepala Eksekutif Pengawas di OJK, membenarkan tren tersebut. "Pada periode Ramadan, penyaluran pendanaan pindar (pinjaman daring) cenderung menunjukkan peningkatan," ujarnya dalam keterangan tertulis akhir pekan lalu.
Dia merujuk pada data historis. Di bulan Ramadan 2024, misalnya, penyaluran dana tumbuh hampir 9% dibanding bulan sebelumnya. Pola serupa terlihat di Ramadan 2025, dengan kenaikan sekitar 3,8%.
"Tren tersebut menunjukkan bahwa Ramadan dapat menjadi salah satu momentum meningkatnya kebutuhan pembiayaan masyarakat," tambah Agusman. Intinya, momen ini secara konsisten memicu aktivitas pembiayaan.
Nah, kalau kita lihat komposisinya, sebagian besar dana yang disalurkan masih untuk keperluan konsumtif. Hingga November 2025, angkanya mencapai Rp 63,63 triliun atau menguasai 67% dari total outstanding industri. Sementara, pembiayaan untuk sektor produktif masih kalah jauh, cuma di kisaran sepertiga total.
Artikel Terkait
IHSG Melonjak 60 Poin, Rupiah Justru Tergerus Dolar
Harga Minyak Naik Moderat, Ditekan Protes Iran dan Ekspor Venezuela
IHSG Dikawal ke Level 9.000, MNC Soroti Empat Saham Potensial
BRMS Gencar Eksplorasi, Gelontorkan Rp53,76 Miliar di Kuartal Akhir 2025