Lembaga pemeringkat Pefindo baru saja memberikan catatan positif untuk PT Xolare RCR Energy Tbk, atau SOLA. Perusahaan ini dapat peringkat idBBB dengan prospek yang dinilai stabil. Kabar ini sendiri dirilis pada Selasa lalu.
Dalam laporannya, Pefindo menyoroti sisi positif SOLA. Struktur permodalannya dianggap konservatif, sementara margin labanya terpantau tinggi. Hal-hal inilah yang mendasari pemberian peringkat tersebut.
Namun begitu, bukan berarti tanpa catatan. Pefindo juga melihat ada beberapa faktor yang membatasi. Basis pelanggan SOLA dinilai masih terlalu terkonsentrasi pada beberapa pihak. Selain itu, perusahaan ini juga masih cukup terpapar naik-turunnya harga komoditas batu bara, yang bisa mempengaruhi kinerjanya.
Ke depannya, peluang untuk naik kelas masih terbuka. Menurut Pefindo, peringkat SOLA berpotensi dinaikkan jika mereka berhasil memperkuat posisi pasarnya lewat berbagai proyek yang sedang dijalankan. Kunci lainnya adalah mendiversifikasi basis pelanggan. Tentu saja, semua itu harus tetap diiringi dengan menjaga profitabilitas dan struktur modal yang sehat.
Di sisi lain, ada juga risiko penurunan peringkat. Ini bisa terjadi jika SOLA ternyata menambah utang lebih banyak dari perkiraan, misalnya untuk membiayai ekspansi atau modal kerja. Risiko muncul jika penambahan utang itu tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan yang memadai, yang akhirnya malah melemahkan kondisi keuangan perusahaan.
Sebagai gambaran, bisnis utama SOLA ada di bidang rekayasa, pengadaan, dan konstruksi atau EPC. Mereka banyak mengerjakan proyek-proyek jalan hauling. Tapi, lewat anak perusahaannya, SOLA juga merambah sektor lain.
Bidang industri seperti aspal modifikasi dan bahan konstruksi digarap. Mereka pun masuk ke sektor energi, dengan mengembangkan panel surya dan pembangkit listrik. Untuk mendukung operasinya, SOLA diketahui mengoperasikan empat pabrik aspal. Lokasinya tersebar di Sumatera Selatan, Demak, Tuban, dan Kalimantan Timur.
Siapa saja yang memegang sahamnya? Per akhir September 2025, kepemilikan saham SOLA didominasi oleh PT Energi Hijau Investama dengan 57,85 persen. Kemudian disusul PT Xolabit Terminal Bitumen (9,37 persen) dan PT Asha Raharja Persada (7,92 persen). Para pendiri, Mochamad Bhadaiwi dan Imam Buchairi, masing-masing memegang 3,82 persen dan 2,08 persen. Sisanya, sekitar 18,96 persen, beredar di tangan publik.
Artikel Terkait
Wall Street Ambruk, Nasdaq Anjlok 4,2% Setelah Data Tenaga Kerja AS Picu Spekulasi Kenaikan Suku Bunga
Hartadinata Abadi (HRTA) Bagi Dividen Rp184,21 Miliar, Laba Melonjak 121 Persen
PT Selamat Sempurna Tbk Bagikan Dividen Final Rp230,35 Miliar, Jadwal Cum Dividen 15 Juni 2026
Wall Street Melemah, Saham Teknologi Terkoreksi Imbas Data Tenaga Kerja AS Lebih Kuat dari Perkiraan