Kekhawatiran pasokan minyak global kembali memicu gejolak di pasar. Pada Jumat (9/1) lalu, harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Pemicunya? Situasi di Iran yang makin panas dan eskalasi perang di Ukraina yang tak kunjung reda.
Brent, patokan minyak internasional, ditutup naik 2,18 persen ke level USD 63,34 per barel. Sementara itu, WTI Amerika menguat 2,35 persen menjadi USD 59,12 per barel. Data Reuters pada Sabtu (10/1) mencatat kenaikan ini.
Ini sekaligus menghentikan tren penurunan dua hari berturut-turut. Bahkan, secara mingguan, reli harga cukup signifikan. Brent naik sekitar 4 persen dan WTI menguat sekitar 3 persen.
Fokus utama pasar tertuju pada Iran. Gelombang protes yang meluas di berbagai kota Teheran, Mashhad, Isfahan menyebabkan kekhawatiran serius. Apalagi dengan laporan pemadaman internet nasional. Semua itu membuat trader bertanya-tanya: apakah produksi minyak negara itu bakal terganggu?
"Gejolak di Iran membuat pasar tetap waspada," ujar Phil Flynn, analis senior Price Futures Group.
Memang, data terbaru OPEC menunjukkan pasokan menyusut. Produksi bulan lalu turun 100.000 barel per hari menjadi 28,40 juta barel. Dan penurunan terbesar justru datang dari Iran dan Venezuela.
Di sisi lain, perang di Ukraina juga memberi tekanan. Militer Rusia mengklaim telah menggunakan rudal hipersonik Oreshnik untuk menghantam target infrastruktur energi Ukraina. Eskalasi semacam ini tentu bikin pasar tegang.
Tapi jangan salah, tidak semua berita mendukung kenaikan harga. Persediaan global masih tinggi, dan banyak yang menganggap kelebihan pasokan ini akan membatasi reli. Analis Haitong Futures berpendapat, jika ketegangan di Iran tidak meledak lebih jauh, kenaikan harga mungkin cuma sementara.
Perhatian juga beralih ke Venezuela. Kabarnya, Gedung Putih akan segera mengadakan pertemuan dengan sejumlah perusahaan minyak dan rumah dagang. Tujuannya membahas skema penjualan minyak Venezuela yang terhambat.
Presiden AS Donald Trump menuntut akses penuh ke sektor minyak negara itu, terutama setelah penangkapan pemimpinnya, Nicolas Maduro. Pemerintah AS bahkan bersikukuh akan mengendalikan penjualan dan pendapatan minyak Venezuela tanpa batas waktu.
Tak heran, nama-nama besar seperti Chevron, Vitol, dan Trafigura disebut-sebut sedang bersaing. Mereka ingin mendapat kesepakatan AS untuk memasarkan minyak PDVSA yang menumpuk sekitar 50 juta barel akibat embargo ketat.
"Pasar akan fokus pada hasil penjualan dan pengiriman minyak Venezuela yang tersimpan dalam beberapa hari mendatang," kata Tina Teng dari Moomoo ANZ.
Sinyal dari dalam negeri AS sendiri juga menarik. Jumlah rig aktif untuk minyak dan gas turun menjadi 544 unit. Angka ini adalah yang terendah sejak pertengahan Desember lalu, mengisyaratkan perlambatan aktivitas produksi.
Jadi, pasar minyak saat ini seperti diombang-ambingkan antara ketakutan akan gangguan pasokan dan realitas persediaan yang melimpah. Menunggu saja, mana yang akan menang.
Artikel Terkait
Metland Targetkan Marketing Sales Rp2 Triliun pada 2026
Hong Kong Salip Swiss sebagai Pusat Kekayaan Lintas Batas Terbesar Dunia
Metland Bagikan Dividen Rp74,2 Miliar dari Laba 2025, Setara Rp9,7 per Saham
PT Daaz Bara Lestari Nilai Kebijakan Ekspor Satu Pintu Tak Berdampak Material pada Kinerja