Harga minyak dunia kembali anjlok. Sentimen pasar sedang suram, dipicu oleh bayang-bayang surplus pasokan global yang mengintai di tahun 2026. Ironisnya, kondisi ini terjadi justru ketika muncul gejolak baru dari Venezuela, setelah Amerika Serikat menangkap Presiden Nicolas Maduro.
Di lantai bursa, angka-angka itu berbicara sendiri. Pada penutupan perdagangan Selasa (6/1), minyak Brent merosot USD 1,06 ke level USD 60,70 per barel. Sementara itu, patokan AS, West Texas Intermediate (WTI), terpangkas lebih dalam, turun USD 1,19 menjadi USD 57,13 per barel. Data dari Reuters ini menegaskan tren pelemahan yang berlanjut.
Lalu, bagaimana dengan dampak penangkapan Maduro? Tampaknya, pasar masih skeptis.
“Masih terlalu dini untuk mengevaluasi dampaknya terhadap keseimbangan minyak,” kata Tamas Varga, analis di PVM Oil.
“Yang jelas, pasokan minyak akan mencukupi pada 2026, dengan atau tanpa tambahan dari anggota OPEC,” tambahnya. Pernyataannya itu seperti menyiram air dingin pada spekulasi geopolitik.
Tekanan terhadap harga sebenarnya punya akar yang lebih dalam. Morgan Stanley, misalnya, memproyeksikan pertumbuhan permintaan minyak global tahun lalu hanya sekitar 900.000 barel per hari. Angka itu jauh di bawah tren historis yang biasanya menyentuh 1,2 juta barel. Permintaannya lesu, tapi pasokan justru melonjak drastis.
Menurut lembaga itu, pasokan dari OPEC naik 1,6 juta barel per hari. Sementara negara-negara non-OPEC bahkan menambahkan pasokan lebih besar lagi, sekitar 2,4 juta barel per hari antara akhir 2024 hingga 2025.
“Ini berarti kedua sumber pasokan memasuki 2026 pada level yang sangat kuat,” tulis analis Morgan Stanley. Situasi yang jelas-jelas tidak menguntungkan bagi harga.
Suasana pesimis ini sejalan dengan survei Reuters Desember lalu. Mayoritas pelaku pasar memprediksi harga minyak akan terus tertekan sepanjang 2026. Penyebabnya klise tapi nyata: pasokan melimpah, permintaan lemah.
Ritterbusch and Associates bahkan memberi peringatan keras. “Seiring surplus minyak global yang terus berkembang menjadi semakin transparan, panggung untuk penurunan kembali pada minggu depan akan terbentuk,” ujar mereka.
Lantas, apa kabar dari Venezuela? Penangkapan Maduro memang memicu spekulasi liar. Banyak yang membayangkan keran investasi dan ekspor minyak negara itu akan dibuka lebar-lebar. Presiden AS Donald Trump bahkan mengklaim perusahaan minyak AS sudah siap menanamkan modal besar-besaran di sana.
Menurut tiga sumber yang mengetahui rencana itu, para CEO perusahaan minyak AS dijadwalkan mengunjungi Gedung Putih secepatnya, kemungkinan Kamis ini. Agenda utamanya adalah membahas peluang investasi di Venezuela.
Namun begitu, optimisme itu perlu ditelaah dengan hati-hati. Faktanya, kondisi sektor migas Venezuela masih sangat rapuh. Produksi minyaknya tahun lalu rata-rata hanya 1,1 juta barel per hari, imbas dari minimnya investasi dan sanksi AS yang bertahun-tahun.
Janiv Shah, analis Rystad Energy, memperkirakan pemulihan pun akan berjalan lambat. “Kami memperkirakan hanya 300.000 barel per hari tambahan pasokan dalam dua hingga tiga tahun ke depan dengan belanja tambahan yang terbatas,” katanya. Bukan lonjakan yang instan.
Sementara mata tertuju ke Venezuela, pasar juga masih menyimak data dari dalam negeri AS sendiri. Jajak pendapat Reuters memperkirakan stok minyak mentah dan produk olahan AS naik pada pekan lalu. Data resmi dari American Petroleum Institute rencananya dirilis Selasa malam waktu setempat, disusul laporan pemerintah pada Rabu (7/1). Data-data inilah yang nantinya akan memberi konfirmasi lebih lanjut tentang arah harga ke depan.
Artikel Terkait
ASLC Bidik Pertumbuhan Dua Digit dengan Andalkan Mobil Bekas Jelang Mudik 2026
Direktur Utama MDTV, Lie Halim, Mundur Jelang Akhir Masa Jabatan
Harga Emas Antam Naik Rp16.000 per Gram, Pesaing Tetap Stabil
IHSG Diproyeksi Bergerak Tak Menentu, Terjepit Sentimen Lokal dan Global