“Kenapa terjadi? karena permintaan kredit saat ini belum sekuat yang diharapkan. Pasalnya, korporasi masih wait and see di tengah ketidakpastian ekonomi,” kata Ibrahim.
Rumah tangga pun kondisinya mirip. Masih banyak yang ragu-ragu mengambil kredit konsumsi karena khawatir dengan prospek ekonomi ke depan. Memang, dari sisi suplai, BI sudah memberikan segudang insentif ke perbankan. Tapi masalahnya, permintaan dari lapangan masih perlu didorong lebih keras lagi.
Sementara itu, OJK punya pandangan yang sedikit berbeda. Mereka melihat angka undisbursed loan yang tinggi justru menunjukkan adanya kelonggaran kredit di masa depan. Artinya, masih ada ruang bagi debitur untuk ekspansi usaha ketika kondisi membaik.
Dengan komitmen kredit yang segunung itu, potensi realisasi pinjaman di masa mendatang sebenarnya besar. Semuanya tentu bergantung pada membaiknya kondisi ekonomi dan kembalinya kepercayaan pelaku usaha. Kalau ini terjadi, sektor perbankan nasional masih punya amunisi untuk mendukung pembiayaan produktif. Asalkan, pendekatannya cermat dan memperhitungkan segala risikonya.
Pemulihan di beberapa sektor ekonomi, ditambah dukungan optimal dari kebijakan fiskal dan moneter, diharapkan bisa memicu efek berantai. Efeknya diharapkan sampai ke konsumsi rumah tangga dan investasi dunia usaha.
Dengan mempertimbangkan semua faktor tadi, Ibrahim memprediksi pergerakan rupiah ke depan masih akan fluktuatif. Untuk perdagangan selanjutnya, ia memperkirakan mata uang kita berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.780 sampai Rp16.810 per dolar AS.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Stagnan, Harga Buyback Turun Rp80.000 per Gram
Harga Jual Emas Antam Stagnan, Harga Buyback Anjlok Rp80.000
Analis: Koreksi IHSG Belum Masuk Kategori Krisis Sistemik
Harga Minyak Jatuh 11% Usai Trump Tunda Serangan ke Iran