Pasar saham kita lagi berdarah-darah, itu jelas. IHSG terjun bebas dan bikin banyak investor ciut nyali. Tapi, jangan buru-buru bilang ini krisis. Menurut analis Sucor Sekuritas dalam riset 18 Maret lalu, ini masih fase koreksi cepat. Tekanan jangka pendek memang tinggi, tapi magnitudo penurunannya belum masuk kategori bencana.
Faktanya, IHSG baru saja mencatatkan bear market ke-12 dalam 36 tahun. Cukup mengerikan, jatuhnya 22,9% dari puncak Januari hanya dalam 55 hari perdagangan. Salah satu yang tercepat dalam sejarah. Namun begitu, kalau dilihat dari angka median historis, koreksi moderat biasanya di kisaran 24,5%. Artinya, posisi kita sekarang masih sejalan dengan pola itu.
"Secara historis, hanya krisis sistemik seperti 1990, 1997, dan 2008 yang menghasilkan penurunan jauh lebih dalam hingga 60-67 persen," tulis Sucor.
Jadi, koreksi saat ini belum masuk wilayah krisis. Titik.
Meski begitu, kita nggak bisa tutup mata. Risiko yang ada sifatnya 'front-loaded' dan agak biner banyak tekanan datang sekaligus. Konflik geopolitik di Timur Tengah, misalnya, mendorong harga minyak melambung. Buat Indonesia yang net importir, ini ancaman serius: inflasi bisa naik, subsidi membengkak, defisit transaksi berjalan melebar.
Belum lagi isu utang. Kekhawatiran soal potensi penurunan peringkat utang mulai mencuat, seiring membesarnya belanja pemerintah dan beban subsidi. Bayangkan jika status investment grade kita hilang. Arus keluar dana asing bisa makin deras karena ada aturan penjualan paksa dari dana-dana yang terikat mandat rating.
Ada lagi ancaman yang lebih teknis: risiko penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI, atau bahkan diklasifikasi ulang jadi frontier market. Probabilitasnya sih dianggap rendah, tapi tetap aja bikin was-was.
Rupiah yang melemah terhadap dolar AS juga jadi pukulan tambahan bagi investor asing, memperbesar kerugian mereka. Dan jangan lupakan potensi kenaikan harga BBM yang bisa langsung mencekik daya beli masyarakat.
Lalu, sampai kapan ini akan berlangsung? Menurut Sucor, kita masih di tahap awal. Koreksi baru berjalan sekitar 1,8 bulan, sementara median historisnya bisa mencapai 4,4 bulan. Jadi, volatilitas tinggi masih sangat mungkin terjadi sebelum pasar benar-benar menemukan dasarnya.
Di sisi lain, secara fundamental situasi belum sampai runtuh. Krisis sistemik biasanya ditandai pelemahan makro yang luas dan berkelanjutan. Kondisi ekonomi Indonesia saat ini, meski ditekan dari luar dan dalam, dinilai masih relatif stabil. Yang penting, dalam catatan sejarah, pasar saham Indonesia selalu bangkit setelah setiap fase bear market.
Rata-rata pemulihannya bahkan menunjukkan potensi IHSG naik sekitar 1,23 kali dari level sebelum krisis. Itu mengindikasikan peluang menuju area 11.200 dalam jangka menengah setelah semua badai ini reda.
Kekuatan kita ada di struktur ekonomi domestik. Populasi lebih dari 280 juta jiwa, pertumbuhan kelas menengah, konsumsi rumah tangga yang jadi penopang utama PDB, plus kekayaan alam seperti nikel dan sawit. Itu fondasi yang kokoh.
Bear market bisa mengganggu, tapi tidak pernah membalikkan arah pertumbuhan struktural jangka panjang.
"Kenaikan premi risiko membuka ruang bagi investor untuk secara selektif mengoleksi saham-saham berkualitas tinggi sebelum sentimen pasar kembali pulih," kata Sucor.
Intinya, lihatlah ini dari kacamata yang lebih panjang. Koreksi memang menyakitkan, tapi di baliknya selalu ada peluang terselip bagi yang sabar dan teliti.
Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
Likuiditas Nasional Tembus Rp10.415 Triliun pada Mei 2026, BI Catat Pertumbuhan M2 Melonjak 10,8 Persen
Dolar AS Menguat, Yen Tertekan Mendekati Level Terendah Empat Dekade
Pemilik Baru SONA Wajib Lakukan Tender Offer, Harga Beli Saham Ditetapkan Rp2.284 per Lembar
Bursa Asia Bervariasi, Nikkei dan Kospi Terkoreksi di Tengah Tekanan Saham Teknologi