Letjen Djon Afriandi: Dari Taruna Terbaik hingga Pangkopassus dengan Brevet Langka

- Rabu, 22 April 2026 | 06:00 WIB
Letjen Djon Afriandi: Dari Taruna Terbaik hingga Pangkopassus dengan Brevet Langka

Dari Baret Merah ke Puncak Kopassus: Jejak Letjen Djon Afriandi

Nama Letjen TNI Djon Afriandi kini berkibar di jajaran elit TNI. Pria asal Payakumbuh, Sumatera Barat ini memegang tampuk pimpinan Komando Pasukan Khusus sebagai Pangkopassus. Karirnya, kalau dirunut, memang berawal dari sana dari jantung pasukan baret merah itu sendiri.

Bicara soal awal mula, Djon adalah lulusan terbaik Akademi Militer tahun 1995. Prestasi itu dibuktikan dengan raihannya atas penghargaan Adhi Makayasa, sebuah tanda keunggulan tak hanya di bidang akademik, tapi juga fisik dan kepemimpinan. Fondasi yang kokoh untuk seorang perwira.

Setelah lulus, perjalanannya dimulai di Grup 1 Kopassus. Dari tahun 1997, ia malang melintang di berbagai posisi komandan peleton (Danton). Mulai dari Danton di Yon 13, lalu berpindah ke Yon 11. Pengalaman lapangan yang padat dan melelahkan, membentuknya dari dasar.

Namun begitu, dunia militernya tak hanya di Kopassus. Setelah hampir 14 tahun, ada babak baru. Tahun 2011, Djon mendapat tugas di Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Ia dipercaya menjadi Danden 1 Grup A, menjaga orang nomor satu di negara. Latar belakang pendidikannya di Naval Postgraduate School AS tentu memberi nilai tambah.

Dari Paspampres, karirnya terus menanjak. Ia sempat menjadi Wakil Komandan Grup A, sebelum akhirnya kembali ke rumah lamanya: Kopassus. Kali ini dengan jabatan Asisten Operasi Danjen. Kemudian, pada 2017, ia memegang komando langsung sebagai Dan Grup 1/Kopassus. Sebuah pencapaian yang berarti bagi seorang perwira yang menghabiskan sebagian besar masa tugasnya di satuan itu.

Di sisi lain, pengalamannya pun dipercaya di lingkungan Markas Besar Angkatan Darat. Di era KSAD Jenderal Mulyono, Djon sempat menjabat Koorspri KSAD. Tak lama kemudian, ia merasakan komando teritorial sebagai Danrem 012/Teuku Umar dari 2020 hingga 2022. Pengalaman memimpin di wilayah, tentu berbeda nuansanya dengan tugas-tugas khusus.

Puncaknya? Pada 2022, ia ditunjuk memimpin Resimen Taruna Akademi Militer. Jabatan prestisius itu sekaligus mengantarnya menyandang pangkat Brigadir Jenderal. Bintang satu pertamanya. Setelah itu, ia sempat menjadi Staf Khusus KSAD, lalu melesat sebagai Danjen Kopassus, dan akhirnya seperti sekarang: Pangkopassus dengan tiga bintang di pundak.

Yang menarik, di balik seragamnya, Djon menyimpan beberapa brevet langka. Salah satunya adalah Master Parachutist Badge dari Angkatan Darat AS. Brevet ini bukan sembarang tanda. Untuk meraihnya, seorang prajurit harus tersertifikasi sebagai jump master dan telah melakukan setidaknya 65 kali penerjunan.

Dan dari 65 kali itu, 25 di antaranya harus dilakukan dengan peralatan tempur lengkap. Semua syarat berat itu harus dipenuhi dalam kurun tiga tahun. Sebuah bukti ketangguhan fisik dan mental di udara.

Jejaknya panjang. Dari taruna terbaik, melalui berbagai medan tugas, hingga memimpin pasukan khusus terbaik Indonesia. Sebuah perjalanan karir yang dibangun dari dedikasi dan, tentu saja, serangkaian brevet langka di dadanya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar