Gas Baru di Sengkang Pacu Optimisme, Target Harga ENRG Melonjak 66%

- Jumat, 19 Desember 2025 | 14:50 WIB
Gas Baru di Sengkang Pacu Optimisme, Target Harga ENRG Melonjak 66%

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) tampaknya sedang membangun fondasi yang kokoh untuk masa depan. Dua hal utama yang jadi pendorongnya: ekspansi besar-besaran di Blok Bentu, Riau, dan kabar menggembirakan dari hasil eksplorasi di Blok Sengkang, Sulawesi Selatan.

Samuel Sekuritas, dalam risetnya pertengahan Desember 2025, menyoroti hal ini. Kunjungan mereka ke aset gas ENRG di Bentu, Pekanbaru, memberikan gambaran yang jelas. Perusahaan ini terlihat sangat agresif dalam memperluas kapasitas operasinya.

Di lapangan, sejumlah fasilitas strategis terus dikembangkan. Mulai dari Segat Gas Plant 1 dan 2, pengeboran sumur North Segat 16, hingga pembangunan Booster Compressor dan North Segat Deep Condensate Processing Facility. Belum lagi lapangan CEN dan North Segat Condensate Plant yang juga sedang digarap. Intinya, semua proyek ini punya tujuan ganda: mendongkrak produksi gas dalam waktu dekat sekaligus menyokong pertumbuhan jangka panjang.

Dampaknya? Produksi gas diproyeksikan naik. Dari sekitar 78 MMscfd saat ini, menjadi 86-90 MMscfd pada 2026. Aktivitas pengeboran yang terus berlanjut jadi penyebabnya.

Namun begitu, berita yang mungkin lebih menarik justru datang dari sisi eksplorasi. ENRG baru saja mengumumkan temuan gas yang signifikan di Formasi Tacipi, tepatnya melalui sumur eksplorasi East Walanga (EWL-1) di Blok Sengkang.

Potensinya besar. Sumur ini punya Absolute Open Flow (AOF) hingga 120 MMscfd untuk proyeksi 2027. Untuk tahap awal, tingkat deliverability-nya diperkirakan sekitar 25-36 MMscfd.

“Produksi komersial final akan ditetapkan bersama SKK Migas dalam proses Plan of Development (POD),” begitu penjelasan perusahaan.

Samuel Sekuritas menambahkan, pengeboran lanjutan akan digelar mulai 2026 untuk menguji potensi sebenarnya lapangan ini. Cadangan gas yang saat ini diperkirakan sekitar 0,2 TCF, berpeluang melonjak hingga 0,5 TCF atau bahkan lebih. Sungguh angka yang tidak main-main.

Untuk mewujudkan semua itu, ENRG tentu butuh dana. Mereka menyiapkan belanja modal sekitar USD30 juta untuk periode 2026-2027. Anggaran itu akan dipakai untuk satu sumur appraisal, tiga sumur pengembangan, plus tambahan sekitar USD10 juta khusus untuk pembangunan pipa menuju fasilitas pengolahan Walanga.

Di sisi lain, soal pendanaan, perusahaan juga punya rencana. Mereka bersiap menerbitkan obligasi hingga Rp4 triliun secara bertahap.

Tahap pertamanya sudah berjalan melalui Shelf Registration Bonds I Tahap I/2025 senilai Rp500 miliar. Obligasi ini terdiri dari tiga seri dengan tenor berbeda: satu, tiga, dan lima tahun. Kabar baiknya, seluruh seri telah memperoleh peringkat idA dari Pefindo. Dana hasil penerbitan ini rencananya akan dipakai untuk pelunasan pinjaman, memenuhi kewajiban antarperusahaan, dan tentu saja, kebutuhan modal kerja.

Dengan serangkaian perkembangan ini, Samuel Sekuritas menjadi cukup optimis. Mereka bahkan menaikkan proyeksi laba bersih ENRG untuk tahun 2027 sebesar 54,1 persen. Tentu saja, ini mencerminkan dampak positif dari temuan gas baru dan aktivitas eksplorasi yang terus digenjot. Potensi masuknya ENRG ke dalam indeks MSCI Big Cap juga disebut-sebut bisa jadi katalis tambahan bagi pergerakan saham.

Maka, tidak mengherankan jika rekomendasi "beli" untuk saham ENRG dipertahankan. Yang menarik, target harganya dinaikkan cukup signifikan menjadi Rp2.300, dari sebelumnya Rp650. Angka baru ini mencerminkan potensi kenaikan sekitar 66 persen dari level harga saat ini.

Perlu diingat, keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan investor. Semua analisis dan proyeksi tetaplah perkiraan, dengan risikonya sendiri.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar