Suasana akhir tahun 2025 ini memang khas. Di mana-mana, nuansa menyambut 2026 sudah terasa, tapi di Indonesia, rasanya selalu berbeda. Kalau di luar negeri, perayaannya mungkin cuma soal pesta besar dan kembang api yang memecah langit. Di sini, pergantian tahun punya kedalaman makna yang lain. Ini bukan sekadar ganti angka di kalender. Bagi banyak orang, ini adalah alasan kuat untuk pulang, untuk kembali ke akar.
Buktinya bisa dilihat di mana saja. Stasiun dan bandara penuh sesak, tiket habis terjual sejak lama. Jalan raya dipadati kendaraan yang meninggalkan kota, mengejar libur panjang. Fenomena "mudik kecil" ini sebenarnya sederhana: kebahagiaan sejati bagi kita adalah berkumpul dengan orang terdekat, bukan sekadar menonton kemeriahan di pusat kota. Nilai kekeluargaan masih jadi prioritas utama, di atas segalanya.
Bagi para perantau baik pekerja maupun pelajar libur panjang akhir tahun adalah waktu berharga. Setelah berbulan-bulan dicekik tekanan dan deadline, istirahat bukan lagi kemewahan, tapi kebutuhan mendesak. Mereka memanfaatkan sisa cuti dan libur sekolah untuk pulang lebih lama. Tujuannya jelas: melepas lelah fisik dan, yang tak kalah penting, mengeratkan kembali ikatan yang mungkin renggang karena kesibukan. Menetap lama di rumah dianggap sebagai cara terbaik untuk reset pikiran sebelum tahun baru.
Dan tentu, ada satu ritual yang paling dinanti. Momen memasak bersama di halaman rumah, memanggang jagung atau ayam, seolah sudah jadi identitas tak terpisahkan. Di sinilah semua anggota keluarga duduk melingkar, berbagi cerita setahun belakangan. Sekat usia pun hilang, larut dalam kegembiraan yang sederhana namun berkesan. Kehangatan semacam ini mustahil didapatkan jika merayakannya sendirian di kota, jauh dari orang-orang tercinta.
Di sisi lain, ada kesadaran yang tampaknya makin menguat. Banyak keluarga sekarang lebih memilih liburan yang tenang, menetap di satu tempat agar bisa benar-benar menikmati waktu berkualitas. Mematikan notifikasi gawai dan menjauh dari urusan pekerjaan jadi langkah penting untuk menyegarkan pikiran. Liburan akhir tahun kini bukan lagi ajang pamer kemewahan, tapi lebih tentang mencari kedamaian batin di dalam rumah sendiri.
Namun begitu, perjalanan pulang tentu bukan hal mudah. Butuh kesabaran ekstra menghadapi kemacetan yang mengular atau harga tiket yang melambung tinggi. Tapi anehnya, semua kesulitan itu seolah tak ada artinya ketika sudah bertemu senyum orang tua di kampung halaman. Rasa lelah berjam-jam di jalan langsung terbayar lunas oleh sambutan hangat. Ini membuktikan, masyarakat kita masih sangat menjunjung tinggi silaturahmi.
Jadi, saat nanti kembang api menghiasi langit menyambut 2026, ingatlah bahwa kemeriahannya bukanlah hal utama. Yang terpenting justru siapa yang ada di samping kita saat detik-detik pergantian itu. Pulang kampung adalah bentuk apresiasi untuk diri sendiri atas kerja keras setahun. Di dunia yang makin individualis, tradisi ini mengingatkan bahwa berkumpul dengan keluarga tetaplah cara paling ampuh untuk menemukan kembali jati diri, sebelum melangkah maju menghadapi tantangan tahun yang baru.
Artikel Terkait
DJP Resmi Ingatkan Publik Waspadai Gelombang Penipuan Berkedok Institusi Pajak
HIPMI Soroti Penyusutan Kelas Menengah Pengusaha di Sidang Pleno Makassar
Tembok Mewah Ambruk di Kalibata, Halaman SMPN 182 Rusak Parah
Gattuso Siapkan Daftar 50 Pemain untuk Seleksi Playoff Piala Dunia 2026